Cerpen Yanto bule! Cinta dalam semangkok seblak

“Sungguh bahagia rembulan menemukan gemerlap gemintang
Pendarannya menyatu erat
Mengitari poros bumi
Begitu juga rindu ini
Tak ingin jauh dari tatap matamu

Gengamlah rinduku
Hantarkan aku dalam mimpi indah tentangmu
Agar mentari pagi tersenyum
Saat aku panggil namamu

Rinduku bagaikan dedaunan pinus yang luruh
Berserak mengeja namamu
Genggam erat temali harapan
Pancangkan kuat di biru langit malam kita

Rengkuhlah mawar putih itu
Jaga keabadiannya
Jangan biarkan layu kemarau
Akar cinta kuat menjaga
Sendu membiru jaga rinduku”

Deru mobil mewah terdengar sampai ke ruang tamuku, Perlahan ku lihat rombongan kendaraan pejabat dengan plat dinas terparkir di halaman warung seblak milik ibuku, sementara rumahku hanya berjarak beberapa meter saja dari warung ibuku yang menjual seblak yang viral, mungkin karena ibuku mengunakan resep peninggalan nenekku dulu.

Ya, aku di lahirkan dari keluarga yang sangat sederhana sekali, ayahku hanyalah pekerja biasa mengurus kebun sendiri, sementara ibuku mencoba membantu keuangan ayah dengan membuka jualan seblak.

Dan Alhamdulillah seblak bikinan ibuku ternyata banyak di gemari pembeli,bahkan ibu ibu pejabat kabupaten sering mampir hanya sekedar mencicipi lezatnya seblak buatan ibuku.

Aku sangat bersyukur memiliki keluarga kecil sederhana, berdua dengan adik lelakiku aku di berikan pendidikan agama yang kuat, sehingga rasa hormat kepada orang tua dan patuh sangat di tekankan oleh ayah dan ibuku.

Tak terasa perjalanan hidupku membawa para jalan nasib yang berbeda, sebab ayahku hanyalah pekerja kebun sementara ibuku hanya berjualan makanan, bisa mengantarkanku pada jalan sukses menjadi seorang tentara dengan pangkat Bintara, seperti cita cita kecilku dulu.

Rasa syukur juga aku panjatkan, meskipun sudah menjadi tentara dan bertugas di kodim dekat dengan desaku, tak merubah sikapku terhadap orang tua dan lingkungan, sesuai pulang dinas dari kodim terkadang aku juga tidak malau untuk sekedar membantu ibuku menghidangkan pesanan tamu, bahkan untuk mencuci piring di dapur warung ibuku.

Ya, bagiku ini caraku berbakti kepada orang tuaku yang sudah membesarkan ku hingga tercapai cita citaku, ada satu tugasku untuk membantu adik ku satu satunya yang tengah berkuliah, sebab si bungsu sepertinya enggan mengikuti jejakku menjadi abdi negara, meskipun si bungsu menjadi adik yang manja tetapi cara dia sekolah ternyata bisa menunjukan prestasinya.

” Nak, bantu ibu antar hidangan ini kepada ibu ibu di pojok saja ya”
” Baik bu,Ersa rapikan dulu bajunya”

Bergegas aku ke warung seblak ibuku, rasa canggung menghampiriku saat menghidangkan beberapa mangkok seblak di hadapan para ibu ibu pejabat, apalagi mereka yang datang menggunakan baju seragam bersama para sopir nya, tentu saja rasa sedikit malu dan canggung menghinggapi hatiku.

” ini pesanannya ibu, silahkan di nikmati “

ujarku sembari meletakkan mangkuk seblak lengkap dengan topping dan saus di atas meja.

Entah pembicaraan apa yang di utarakan para ibu ibu pejabat, sebab aku bergegas masuk ke dapur mengambil beberapa mangkuk seblak untuk para tamu lainya di warung ibuku.

Hening malam mulai merayapi dingin, sejuk angin terasa menusuk kulitku, aku yang tengah duduk di depan rumah menemani ayah ngopi, tiba tiba nomor ponselku berdering ,satu nomor panggilan tak bernama aku abaikan, aku sudah cemas jika nomor komandanku tiba tiba menelpon dan memerintahkan aku segera kekantor malam ini.

Sepulang dari kantor,rasa penat begitu menyergapku seharian pekerjaan di kantor menyelesaikan laporan operasional di bagian OPS kodim, banyak menyita tenaga dan pikiranku, waktunya rebahan di rumah sembari memutar musik Kenny g.

Belum sempat aku pejamkan mata ,di sopa ruang tamu ada suara perempuan yang ijin ke kamar mandi, dengan rasa malas aku mempersilahkan perempuan berkerudung motip bunga , melewatiku di ruang tamu, dengan langkah malu malu sambil menunduk meminta tolong menunjukkan kamar mandi keluargaku.

” Masuk ke kanan, sebelah dapur ada kamar mandi” kataku pelan, sebab rasa kantukku mulai menderaku.

” Terima kasih kak” kata perempuan berjilbab motif bunga, dengan tubuh tinggi semampai, dari sudut mataku kulihat begitu manisnya dia.

Ahk, perasaan macam apa yang kurasakan, hampir setiap pulang dinas aku di rumah , seperti menantikan perempuan berjilbab yang sempat Nu’mang ke kamar mandi orang tuaku, dan aku duduk di beranda berharap dia datang menikmati seblak lezat masakan ibuku.

Waktu berlalu begitu lambat, seperti musim kemarau menanti hujan, seperti itulah suasana hatiku, tentara yang rindu akan tugas jauh, gelisah tak menentu.

Penantian panjang ku tiba tiba menemukan telaga bening Nan teduh, saat satu motor matic terlihat masuk dengan dua orang penumpang, satu di antaranya aku seperti mengenal ,ya sosok wanita anggun berjilbab turun dari motor mengapit tas kecil di lengan kirinya.

Tak bisa ku pungkiri, tiba tiba aku merasakan rindu yang begitu kuat padahal aku belum kenal siapa namanya,berlagak sok jadi pelayan aku hampiri perempuan angin itu, rasa malu dan ku beranikan diri menawari menu makanan .

” Silahkan di pesan ini menu yang ada di sini” kataku dengan percaya diri, diam diam aku melihat ada senyum manis di sudut bibirnya yang tak di hiasi lipstik.

” Saya pesan seblak dan dua minuman dingin saja ” ujarnya penuh sopan.

Temaram senja tiba tiba membuyarkan konsentrasi ku , saat perempuan yang mulai ku rindukan berpamitan pulang, segera saja aku beranikan meminta nomor ponselnya.

Ku catat dan ku hafal nomor dan nama perempuan muda pemilik senyum indah itu, Ya perempuan itu bernama Tasya , ternyata masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di ibukota provinsi, makin penasaran ku coba kontak sekedar berkirim chat, ternyata di balas.

“Entah harus ku tuliskan lewat cara apa
Sebab semua keindahan dirimu menjelma pada hatiku
Atau mesti

Senja kala sudah menuliskan bahwa hati bukan untuk di ingkari
Seperti cinta Amangkurat I yang menitahkan mencari nyai truntum untuk menjadi pendamping “. Semoga berkenan Tasya.

” begitu indah puisi yang kakak kirim, aku ingin menyelami di setiap kata katanya kak”

Makin hari, hatiku tak mau terpisahkan walaupun hanya sedetik saja tak menghubungi Tasya.

Setelah Tasya libur kuliah aku beranikan diri, untuk sekedar menyampaikan rasa sukaku pada Tasya, pelan dan lirih Tasya memintaku untuk menemui orang tuanya, sebab dirinya adalah anak pertama di keluarganya.

Ku Beranikan diri, mendatangi keluarganya, dengan berbekal alamat dan rasa penasaran terhadap keluarganya, pulang dinas aku kerumah yang terlihat begitu megah, pelataran yang luas nan asri, aku jadi ragu untuk sekedar mengetuk pintu rumahnya.

Beberapa saat tombol lonceng rumah ku tekan, tak jua ada balasan dari pemilik rumah, rasa gugup menguasai hatiku, benar atau tidak yang ku tuju adalah rumah Tasya, sebab alamat yang di berikan sesuai dengan lokasi rumahnya.

Tiba tiba muncul sosok pria paruh baya, keluar rumah dan menanyakan ku.

” Mencari siapa ya”
” Benar ini rumah Tasya pak” ujarku gugup.

Suasana hening, begitu terasa saat aku di persilahkan masuk ke dalam rumahnya nan besar dan megah, rasa canggung langsung menghinggapi hatiku, pria baruh baya tadi langsung masuk ke dalam rumah.

Tiba tiba dari balik pintu keluar sosok ibu, dengan berjilbab menghampiriku, kemudian memastikan bahwa yang ada di depanku adalah teman dekat anaknya.
” Kamu cari siapa, bertamu ke rumah orang kok pakai kaos oblong “
” Maaf ibu, tadi baru selesai fitnes dan berniat pulang ke rumah, kebetulan melewati rumah yang di tunjukan Tasya “
” Kamu kenal anakku”
” Iya Bu, ijin saya boleh numpang sholat asar Bu”

Semenjak pertemuan di rumah Tasya, benakku di penuhi kebimbangan, antara meneruskan atau menyudahi, betapa berjaraknya kehidupanku dengan Tasya antara langit dan bumi .

Ini pertemuanku ke sekian kalinya dengan keluarga Tasya, banyak motivasi dan dorongan dari keluargaku bahwa aku harus percaya bahwa jodoh, nasib dan maut adalah ketentuan Tuhan, maka ku niatkan meminang Tasya dengan semua kekuranganku.

Komandanku juga mendukung , bahkan diam diam komandanku sudah sangat dekat dengan keluarga Tasya, tentu saja kabar bahagia itu menjadi kado terindah jelang ramadhan kali ini, betapa aku membayangkan betapa bahagianya aku bisa berjodoh dengan Tasya.

Doa doa tulus dari orang dekat, ternyata di kabulkan Tuhan, dengan semua kekurangan dan keberanian, maka aku pinang Tasya dengan segenap cinta kasihku,Tuhan juga begitu baik meskipun harus aku berjuang menemui paman Tasya untuk meyakinkan bahwa aku benar benar tulus mencintai Tasya, dan orang tua Tasya juga menyambut baik niat keluargaku.

Kado indah dari buah cintaku bersama Tasya, menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kecilku , bayi mungil tersenyum di gendongan neneknya sementara istriku Tasya masih terbaring lemah di bangsal rumah sakit swasta.

Sanggar imaji, Pamenang 18 April 2024

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours