Cerpen Yanto Bule
Angin malam begitu dingin menusuk kulitku, Suara burung malam terdengar lirih di kejauhan pepohonan,temaram lampu dinding kamar memantul di seputaran ruangan kamarku yang memulai mengelupas.
Mukena bekas sholat malam masih belum aku rapikan, Entah perasaan apa yang begitu berkecamuk di dadaku,setiap melihat kain sarung berwarna merah kotak kotak,yang ku simpan di dalam lemari ku.
Peristiwa tragis itu seperti begitu nyata,hadir di depan mataku setiap aku melihat kain sarung pembelian neneku dulu.
Ya,aku hanyalah gadis berumur 14 tahun yang beranjak remaja, Aku lahir dari keluarga yang sangat sederhana,kedua orang tuaku hanyalah perantau dari tanah Jawa , Dan saat ini menetap di kampung dimana aku tinggal sekarang.
Didikan ayah yang selalu mengingatkan ku untuk setiap sore aku pergi mengaji di rumah pak kyai, terus aku dengar,apalagi ibuku yang dulunya merupakan santri di salah satu pondok pesantren di desanya begitu fanatik terhadap pemahaman agama,sehingga kebiasaan mengaji di pulau Jawa terbawa sampai di kampung.
” Nak, jangan pernah tinggalkan sholat mu ,sebab dekat dengan pemilik alam akan menjagamu di setiap waktunya, ”
” Iya ayah, insyaallah aku akan tetap menjaga sholatku”
Di kampung,ayahku di percaya untuk mengurus masjid dari mulai membersihkan lahan,sampai dengan membersihkan ruangan masjid yang menjadi tempat ibadah warga kampung.
Tetapi ayahku tidak menetap dan tinggal di rumah garim,di lokasi masjid, namun tinggal di lahan yang ayah beli dan di didirikan rumah sederhana,jadi setiap hari ayahku berulang ke masjid untuk bersihkan masjid.
” Untuk apa tinggal di rumah yang ada di lokasi masjid, biarpun sederhana kita masih punya rumah nak, biarlah ayah setiap hari ke masjid untuk bersihkan masjid sehabis itu bisa pulang kerumah”
Keseharian orang tuaku,hanyalah penyadap karet upahan milik pak haji Somad, Dan hampir setiap tiga hari ayahku pasti bisa mencetak getah karet lebih dari 100 kg, sebab pohon karet unggul dan di kenal memiliki banyak getah jika di sadap.
Satu waktu di senja, saat kami tengah berkumpul bersama orang tuaku,tiba tiba datang tamu kerumah dengan mengendari mobil hitam.
” Assalamualaikum pak Sholeh”
” Walaikumsalam pak Amri,tumben singgah kerumah pasti ada perlu”
Pak Amri merupakan salah satu tokoh masyarakat,Yang juga berprofesi sebagai ketua KUA di kecamatan ku,entah ada perlu apa datang kerumahku,aku tidak Bernai keluar kamar dan hanya bisa mencuri dengar dari dalam kamarku yang mereka bicarakan.
Setelah tamu pulang dari rumahku, Ayah memanggilku untuk membicarakan satu hal penting, yang di bawa oleh pak Amri.
” Nak, tahun ini kamu lulus dari sekolah dasar, Dan wajib melanjutkan sekolahmu, meskipun ayah dan ibu hanyalah petani upahan,tapi kamu harus sekolah nak”
” Bagaimana dengan biaya sekolahku kelak yah”
” Itulah yang ayah fikirkan, Sebab kamu sendiri tau masih ada kakakmu yang juga sekolah di Jawa di kampung nenekmu yang butuh biaya nak”
” Terus aku harus gimana yah”
” Kedatangan pak Amri kerumah kita, memintamu untuk sekolah di kota ,dan akan di biayai oleh pak Amri,jika engkau mau ayah akan antarkan ke rumah pak Amri jika sudah lulus nak”
Dua tahun sudah aku ikut keluarga pak Amri orang tua angkat ku, aku di perlakukan seperti anaknya sendiri sebab tiga orang anaknya sudah besar ,dan sudah bekerja semua sehingga keluarga pak Amri hanya tinggal berdua saja.
Di sekolah,aku di kenal sebagai anak yang punya prestasi,tiga besar selalu aku raih, meskipun harus bersaing dengan kawan kawanku dari kota dan keluarga yang berbeda.
Di suatu malam, ada pasar malam di ibukota kecamatan,kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah orang tua angkat ku.
Malam itu, bulan begitu terang sebab sudah masuk tanggal 14, suasana ramai di pasar malam,aku bersama dengan Aminah teman sekolah berpamitan untuk nonton pasar malam.
Dengan berjalan kaki dari rumah,aku berdua menikmati tontonan dan permainan dipasar malam.
Pukul 22.00 wib, aku mengajak Aminah pulang,tiba di tengah jalan aku melihat ada Jaka, pemuda di kampungku menyapa dan mengajakku jalan,tetapi karena aku pamit pulang tidak terlalu malam pada orang tua angkatku,maka aku tolak ajakan Jaka.
Ternyata Jaka tidak kehabisan akal, Aku dan Aminah terus di ikuti ,dan saat Aminah di jemput keluarganya aku meneruskan pulang kerumah.
Tiba tiba sosok Jaka sudah berada di sebelah ku, Dengan suara yang kasar Jaka memaksa ku untuk ikut jalan bersamanya.
Tentu saja ajakan itu aku tolak, Jaka terus memaksaku,dengan mulut bau alkohol Jaka terus memaksaku sembari menarik tanganku cukup keras.
” Ikutlah bersamaku Nisa, aku sudah lama menaruh hati padamu”
” Tidak mau, aku sudah di tunggu ayah dan ibu di rumahku “
Tiba tiba tangan Jaka merangkulku,cukup erat,tangan kirinya berada di atas bahu kiriku dan tahan kanannya memegang tanganku cukup keras.
Sontak tubuhku di tarik ke dalam semak semak di pinggir jalan, Aku berusaha melawan namun kalah tenaga,tubuhku terus di seret Jaka ke dalam semak di kebun karet.
Tiba tiba suara tertawa terdengar sahut sahutan, Ternyata aku di bawa di dekat gubuk yang di dekatnya sudah ada enam orang pemuda yang tengah menenggak alkohol.
” Akhirnya bisa juga kau bawa gadis yang selama ini kau taksir Jaka ha ha ha ha”
” Kapan lagi kamu berani jemput pujaan mu Jaka,kalau tidak seperti ini”
Suara tertawa itu makin keras,membuatku sangat takut,kain sarung yang membalut tubuhku tiba tiba terlepas dengan paksa, jaket bertenun yang ku pakai terlepas dan sobek di badanku.
Yang aku ingat hanyalah wajah wajah yang terus berganti di atas tubuhku,kaki dan tanganku terus meronta berusaha melepaskan diri tetapi kuatnya tangan tangan yang di rasuki nafsu jahanam tak mau melepaskan aku begitu saja.
Aku seperti kelinci di kaki elang,tak bisa lepas, hanya untuk bergerak saja tidak mampu.
Rasa perih di tubuhku,Tak sebanding dengan rasa hancur hati dan perasaan ku, suara tawa itu tiba tiba menghilang dan hanya hening di sekeliling ku,agin dingin menusuk kulitku yang tergelak di bawah pondok di kebun karet.
Entah sudah berapa lama aku terkapar, yang aku ingat hanyalah wajah wajah jahanam di malam itu, suara mesin pengontrol jantung berbunyi berpacu dengan waktu.
Wajah cantik ibuku,seperti begitu dekat di wajahku,suara ayah terus melantunkan ayat ayat Tuhan untuk mendorongku agar aku tersadar.
Tiba tiba ada tangan halus menyentuhku, Sontak menyadarkan kanku dari trauma yang aku alami.
” Nak jangan kau ingat terus peristiwa itu,kini engkau sudah aman bersama kami di sini di rumah nenekmu”
“Tujuh lelaki laknat itu sudah tertangkap,satu orang tewas tertembak polisi akibat melawan saat di tangkap”
Kain sarung bercorak kita merah,menjadi penyaksi di malam itu, perlahan aku buang di tengah laut saat menyebrangi selat Sunda, ku kubur luka masa laluku dengan cita citaku.
Sanggar imaji,Pamenang 9 Oktober 2025





