M A W A R

oleh -17 Dilihat
Cerpen Mochammad Syu’aib

Di sebuah dusun sunyi, tak jauh dari aliran sungai yang keruh setiap musim hujan, di pinggir kawasan , tinggal seorang gadis bernama Mawar.

Namanya indah.
Terlalu indah untuk hidup yang ia jalani.

Usianya sekitar enam belas atau delapan belas—tak pernah benar-benar dicatat dengan pasti. Dalam keluarganya, tak ada kebiasaan merayakan ulang tahun. Hari lahir bukan sesuatu yang perlu diingat; yang penting hari ini ada nasi untuk dimakan, esok masih bisa bekerja.

Ia lahir dari keluarga buruh sadap karet. Setiap pagi, ketika kabut masih menggantung rendah di sela batang-batang karet dan embun bergelayut di ujung ilalang, kedua orang tuanya telah berangkat ke kebun. Pintu kayu rumah papan mereka berderit pelan, seperti keluhan yang tak pernah selesai.

Mawar adalah anak pertama dari tiga bersaudara.
Sejak kecil, ia belajar menjadi dewasa lebih cepat dari waktunya.
Dipaksa lebih tua dari usianya.

Di masa ketika anak-anak seusianya sibuk menggulir layar gawai, tertawa di media sosial, dan mengenal dunia lewat huruf-huruf yang bercahaya, Mawar justru hidup dalam gelap aksara. Ia buta huruf. Tak bisa membaca tulisan—apalagi membaca nasibnya sendiri.

Bukan karena ia tak mampu.
Melainkan karena ia tak pernah diberi kesempatan.

Di rumah itu, pendidikan bukan kebutuhan primer. Yang penting perut terisi. Yang penting hari berganti tanpa kelaparan.

Namun ketidakberuntungan Mawar tak berhenti di sana.

Ayahnya lelaki temperamental. Tangan yang seharusnya menjadi pelindung kerap berubah menjadi sumber luka. Tangan itu pernah mencekik. Pernah menjambak. Pernah menampar. Seakan kemarahan adalah bahasa paling fasih yang ia kuasai.

Setiap kali bentakan menggema di dinding papan, adik-adiknya akan bersembunyi di sudut, memeluk lutut dengan tubuh gemetar. Mawar berdiri paling depan.

Bukan karena ia paling kuat.
Melainkan karena ia anak pertama.

Lelaki yang semestinya menjadi tempat bersandar berubah menjadi bayang-bayang ketakutan. Sosok yang seharusnya mengenalkan dunia lewat kasih, justru memperkenalkannya lewat rasa sakit.

Suatu pagi, ketika kedua orang tuanya pergi ke kebun, Mawar memberanikan diri menemui Pak RT. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia menceritakan semuanya—cekikan, tamparan, malam-malam panjang yang dipenuhi tangis tertahan.

Pak RT terdiam lama. Kerut di dahinya semakin dalam. Ia berjanji akan melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib.

Namun Mawar segera menggeleng.

“Jangan, Pak…”

Ia takut.
Bukan pada ayahnya.

Tetapi pada kemungkinan yang lebih besar dari rasa takut itu sendiri.

Jika ayahnya dipenjara, siapa yang akan menafkahi ibu dan kedua adiknya? Siapa yang akan membeli beras? Siapa yang akan membayar utang di warung? Siapa yang akan melunasi cicilan mingguan?

Ia terjebak dalam dilema yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah-karena ia memang tak pernah duduk di sana.

Akhirnya, ia memilih diam.

Diam yang berat.
Diam yang perlahan mengikis.

Di wajahnya, tak banyak orang mampu membaca luka. Ia tetap membantu ibunya, tetap menggendong adiknya, tetap tersenyum ketika berpapasan dengan tetangga.

Tetapi di dalam dadanya, ada perang yang tak pernah selesai.

Mawar tak selalu seindah namanya.
Ia tumbuh di tanah keras, tanpa pupuk, tanpa perlindungan.

Namun entah bagaimana, di antara retakan hidup yang kasar itu, ia masih menyimpan sesuatu yang tak ikut patah:

keteguhan.

Dan mungkin-
harapan kecil yang bahkan belum sempat ia eja.

NB:Terinspirasi dari kisah nyata yang dituturkan Pak RT pagi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.