Gelangang Judi Sambung Ayam ,Dekat Pusat Kota Merangin Tak Tersentuh Aparat?
Merangin,informasikita.com – Arena gelanggang judi jenis sabung ayam yang berada di kelurahan pematang Kandis, kecamatan Bangko sepertinya aman aman saja,…
Flash News
Merangin,informasikita.com – Arena gelanggang judi jenis sabung ayam yang berada di kelurahan pematang Kandis, kecamatan Bangko sepertinya aman aman saja,…
Jambi,informasikita.com-Provinsi Jambi kembali berhadapan dengan bencana ekologis berulang yang kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data hasil analisis dan pemantauan Perkumpulan Hijau periode 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, tercatat akumulasi 1.771 hotspot (titik panas) yang terkonsentrasi di dalam area konsesi perusahaan perkebunan, kehutanan, hingga pertambangan. Rentetan angka ini mempertegas bahwa karhutla di Jambi bukanlah musibah alam biasa, melainkan dampak nyata dari kehancuran bentang alam akibat pengubahan sistem hidrologi gambut dan dugaan monopoli air yang masif oleh korporasi. Sebaran 1.771 Titik Panas di Area Konsesi Perusahaan (Data Perkumpulan Hijau Jambi 2026) Berdasarkan rekapitulasi data Perkumpulan Hijau Jambi, sepanjang 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, titik panas yang berada di dalam kawasan perizinan industri terbagi dalam tiga sektor utama: 1. Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) — Total 1.289 Hotspot Sektor PBPH menjadi kontributor hotspot terbesar pada 2026. Konsesi penyumbang titik panas terbanyak meliputi: PT Wirakarya Sakti: 272 hotspot PT Alam Lestari Nusantara (d.h. PT Bukit Kausar): 178 hotspot PT Restorasi Ekosistem Indonesia: 171 hotspot PT Alam Bukit Tiga Puluh: 166 hotspot PT Sam Hutani: 160 hotspot PT Limbah Kayu Utama: 109 hotspot PT Mugitriman International: 97 hotspot PT Lestari Asri Jaya: 50 hotspot PT Hijau Artha Nusa: 32 hotspot PT Gading Karya Makmur: 12 hotspot…
MERANGIN , informasikita.com – Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan mewarnai kunjungan kerja Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Nyamin, S.I.P., M.M., beserta…
MERANGIN,informasikiya.com — Gerak cepat Tim URC Opsnal Sat Reskrim Polres Merangin berhasil mengamankan seorang terduga pelaku tindak pidana pencurian kendaraan…
Menyoal essay Yanto Bule beberapa waktu yang lalu WIKO ANTONI Menarik membaca kegelisahan Yanto Bule tentang gelar, karya, dan pengakuan. Tetapi menurut saya, justru di sinilah persoalannya perlu dibalik: gelar seniman semestinya lahir dari kekaryaan, bukan dari ijazah atau piagam penghargaan. Ijazah membuktikan seseorang pernah menempuh pendidikan. Piagam membuktikan seseorang pernah menerima penghargaan. Keduanya penting sebagai dokumen administratif dan rekam jejak, tetapi tidak otomatis menjadikan seseorang seniman. Seniman dibuktikan oleh karya, proses kreatif, konsistensi, gagasan, dan keberanian mempertanggungjawabkan karya di hadapan publik. Seseorang boleh tidak memiliki gelar akademik seni, tetapi bertahun-tahun melahirkan puisi, cerpen, lukisan, musik, film, atau karya kebudayaan yang hidup dan memberi pengaruh. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak ijazah dan piagam, tetapi belum tentu memiliki kegelisahan kreatif yang membuatnya terus berkarya. Karena itu saya kira persoalannya bukan “seniman bertitel atau tidak bertitel”, melainkan bagaimana kita memahami titel itu sendiri. Kalau titel yang dimaksud adalah gelar akademik, ia bukan ukuran kesenimanan. Kalau titel yang dimaksud adalah sebutan sosial “seniman”, maka masyarakat biasanya memberikannya setelah melihat perjalanan kekaryaan seseorang. Bahkan penghargaan pun seharusnya tidak menjadi tujuan utama. Penghargaan adalah konsekuensi yang mungkin datang setelah karya bertemu dengan ruang apresiasi. Ia boleh diterima, disyukuri, bahkan dicatat sebagai sejarah perjalanan, tetapi jangan sampai piagam menggantikan karya. Saya justru teringat satu prinsip sederhana: seniman tidak selesai ketika menerima penghargaan; seniman justru diuji setelah penghargaan itu diberikan—apakah ia masih mampu menciptakan karya berikutnya. Maka, bagi saya, Yanto Bule tidak perlu terlalu terbebani oleh pertanyaan apakah dirinya “layak” disebut seniman. Teruslah menulis. Teruslah membaca. Teruslah belajar dari guru, dari lingkungan, dari pengalaman, bahkan dari kegagalan. Sebab pada akhirnya, ijazah bisa disimpan di lemari, piagam bisa dibingkai di dinding, tetapi karya harus terus hidup di hadapan pembacanya. Dan mungkin inilah gelar paling jujur bagi seorang seniman: bukan yang tertulis di belakang namanya, melainkan yang tertinggal setelah karyanya dibaca. Penulis…
Jambi,informasikita.com – Sinema Kajang Lako menyelenggarakan penayangan film “Mencari Jeda” pada Minggu, 16 Agustus 2026, di halaman belakang Broyat, Jambi.…
Merangin,informasikita.com — Upaya memperkuat apresiasi sastra di kalangan pelajar, terus dilakukan melalui kegiatan literasi ,yang mempertemukan dunia perguruan tinggi dengan…
Merangin,informasikita.com — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, menjadi momentum bagi PT Sari Aditya Loka (PT SAL)…
Merangin,informasikita.com – Semarak Pawai HUT RI ke 81, begitu terasa meriah,Ribuan orang turun ke jalan untuk melihat aksi para…
Merangin,informasikita.com – Serba serbi memperingati HUT RI ke 80, Berlangsung meriah di sejumlah daerah di Indonesia,Salah satunya di RT…
Merangin,informasikita.com — Bupati Merangin, M. Ayukur memimpin jalannya Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di halaman kantor Bupati…