“Di antara banyak definisi cinta di dunia ini, keputusan seorang ayah menangguhkan membeli rokok demi anaknya adalah sebentuk cinta yang paling sunyi, namun paling dalam”
Selepas Ashar menjelang Maghrib. Hujan termangu di beranda ragu; kembali mengunjungi bumi atau hanya bergelantungan di rusuk langit yang kian menua. Sementara titah tak kunjung datang. Begitulah adanya, dalam kehidupan ragu kerap menghampiri siapa saja melintasi sekat sosial memanjat tembok usia, nyaris tanpa jeda.
Sore itu, aku terperangkap di sebuah bangunan megah sebuah pusat perbelanjaan, yang lahir dari perut peradaban mereka yang memproklamirkan diri sebagai manusia modern, mall. Sebuah bangunan yang sering kujumpai dalam keseharian, namun keberadaannya kurasakan begitu asing. Lebih tepatnya, aku begitu asing untuk mahkluk yang bernama mall. Dan keberadaanku di mall adalah sebuah bukti iktiarku berdamai dengan peradaban dan kemajuan jaman.
Dengan menenteng kantong plastik berisi barang remeh temeh yang tidak kudapati di toko tradisional milik tetanggaku, aku bergabung dengan antrian menuju meja kasir. Sejenak aku berhasil mengusir beberapa pertanyaan yang tetiba hadir di kepalaku, seperti mengapa barang remeh temeh yang kucari tidak dijual di toko tradisional? apakah ini strategi untuk ‘memaksa’ konsumen datang ke mall, atau pemilik toko tradisional yang kurang jeli membaca peluang? dan banyak lagi pertanyaan yang menyesaki pikiranku. Khusyuk, belajar budaya baru, antri.
Ruang berpendingin, lantai bersih tak berdebu, pramuniaga yang berpenampilan modis dan rapi dilengkapi beragam wangi-wangian adalah suasana yang jarang kutemui. Dasar, kampungan!.
“Totalnya,.57.800 ya, pak,” ujar seorang perempuan muda di meja kasir kepada lelaki muda yang berdiri tepat di depanku. Lelaki yang memakai kaos bergambar salah satu pasangan peserta Pilpres 2024. Usianya di antara angka 40-50 tahun. Namun garis lipatan kerutan beban hidup di wajahnya membentuk sketsa yang tidak linear dengan angka tersebut. Ah, mata memang sering mencandra yang tidak sesungguhnya. Lelaki itu diam, sesaat kemudian tangannya mengeluarkan lembaran uang dua ribuan dari saku celananya. Menatanya dan menghitung receh pelan satu persatu. Pelan tapi pasti seperti tangan takdir yang tak sedetik pun diam. Tangannya tidak gemetar. Lelaki itu bertekad apapun peran yang harus dijalani, ia akan menjalaninya kesungguhan maksimal.
Waktu serasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Lelaki itu menoleh ke anaknya, seorang gadis kecil berusia 4-6 tahun. Sesaat gadis kecil dengan rambut dikuncir kuda itu gamang, bingung memaknai tatapan lelaki yang tidak pernah berucap ‘tidak’ untuk semua yang diinginkannya. Lelaki yang rela melakukan apa saja untuk membahagiakannya. Lelaki yang ikhlas menggantikan posisinya menangis demi melihatnya tersenyum. Lelaki yang menyelimutinya dengan kasih sayang saat dingin menyerang, memayunginya ketika panas datang. Lelaki yang kepadanya ia memanggil bapak sekaligus ibu.
“Nak, beli camilannya besok aja, ya, beli coklat aja, uangnya gak cukup,” ucap lelaki itu dengan kesedihan menggunung yang coba ia sembunyikan.Baginya, kebahagiaan mutlak itu senyum di bibir gadis kecilnya, tidak yang lain. Mungkinkah kali ini aku gagal melihat senyum di ujung bibir anakku, pikirnya. Tetiba ia merasa menjadi seorang bapak yang gagal untuk anaknya. Tanpa keraguan anaknya mengangguk. Tidak ada drama, tidak merajuk, tidak merengek, tidak menawar. “iya, pak” jawabnya mantap.
“Yang tidak jadi yang mana, Pak? Camilan atau coklatnya,? Tanya kasir memastikan. Gadis kecil itu menunduk, tenang, seakan sudah paham dengan keadaan. Sebagai anak seorang buruh serabutan ia sudah terbiasa membunuh banyak keinginan. Bahkan tak jarang sebelum keinginan itu lahir.
Lelaki itu mencoba menyibak kegamangan yang membayang, dan menatap kembali sepasang mata kecil yang tadi mengangguk tanpa protes.
“Rokonya saja yang dibatalin, Mbak, camilan sama cokelatnya jadi semua” jawabnya tanpa keraguan
Republik NGOTA Senami, 15 Februari 2026.
“Cerita ini terinspirasi dari tulisan Ning Wilda di status facebook-nya.





