Rembulan Di Balik Hutan Siguntang

Cerita anak Yanto Bule

Dor
Dor
Dor
Suara tembakan menggelegar di balik rimbun pepohonan, suara ranting terpijak  berderak,langkah kaki  berlari cepat, ke arah semak yang bergeretak seperti kena amukan binatang.
” Sstt…, si loreng yang selama ini meresahkan dan meneror warga sudah tertembak” kata pemburu.
” Hehehehe….kita kuliti dan kita jual saja,biar jejak perburuan kita tidak terendus aparat” ujar pemburu yang lain.
Se ekor harimau tumbang, di ujung peluru pemburu yang mengunakan senjata api rakitan,tubuh panjangnya yang berbalut kulit loreng bersimbah darah akibat satu butir peluru menembus tepat di leher si raja hutan.
Malam itu suara hewan hutan bukit si guntang terasa resah, bawanan monyet berteriak keras dan berlompatan di antara dahan dahan rimba, sementara burung dan ayam hutan terus berkicau dan berkotek, seperti membaca akan terjadi sesuatu di hutan terakhir itu.
Nun jauh di bukit Siguntang, ada gubuk dimana kakek Kalam tingal dan bercocok tanam, palawija dan juga buah buahan tahunan seperti pohon durian, rambutan,nangka dan juga pohon petai hutan.
Bagi kakek Kalam, aktivitas berkebun merupakan cara merawat alat sekitar, bahkan saat di tawari oleh pesirah sidi, untuk membuka hutan adat di bukit Siguntang,kakek menolak halus, baginya hutan adalah ibu bagi alam yang menyediakan oksigen bagi umat manusia,dan tak perlu di tambah.
” Kek, jika engkau membutuhkan lahan yang luas untuk berkebun,silahkan buka hutan di kaki bukit Siguntang,itu merupakan lahan milik desa kita yang di tinggalkan kan leluhur kita dulu” ucap pesirah sidi.
” Lahan ini sudah cukup bagiku ,pasirah…untuk apa membuka lahan yang luas,jika harus ada kehidupan yang kita korbankan di bukit Siguntang” kata kakek Kalam.
Bukit Siguntang, selama ini di kenal sebagai hutan adat desa kami, warga tidak pernah berani merambah atau membuka hutan secara sembarangan,sebab ada aturan adat yang harus di patuhi, ada ukuran luasan lahan tertentu yang wajib di ikuti bagi warga desa yang membuka lahan, itupun harus atas persetujuan tetua adat desa,jika tidak sudah pasti bakal mendapatkan kesulitan dan barang tentu tidak akan berhasil untuk bercocok tanam nya.
Bukit Siguntang juga menjadi benteng terakhir bagi hewan hewan, seperti harimau dan juga binatang lainya untuk bertahan hidup di sana,dari gempuran perusahaan yang masuk membuka lahan menjadi perkebunan sawit.
Dari cerita kakek Kalam, bahwa harimau yang tinggal di bukit Siguntang bukanlah harimau sembarangan, sebab jika di desaku akan terjadi musibah,pasti harimau akan mengaum dengan keras di ujung desa, namun jika akan terjadi satu penyakit,harimau bukit Siguntang akan masuk desa dan seperti memperingatkan warga untuk waspada.
” Nak, jika ada suara harimau masuk ke ujung desa kita,itu artinya penjaga hutan tau akan terjadi musibah besar, dan jika harimau itu masuk desa berarti bakal ada penyakit yang menyerang warga desa” kata kakek Kalam.
” Apakah harimau itu jadi jadian kek” kataku.
” Bukan nak, itu harimau penjaga hutan bukit Siguntang, sebab desa ini dulunya masuk kawasan kaki bukit Siguntang, harimau itu seperti penjaga untuk desa kita, ” kata kakek Kalam.
” Apa pernah ada warga desa di makan harimau bukit Siguntang kek”
” Selama kakek hidup puluhan tahun, sampai sekarang belum pernah ada kabar warga desa kita jadi korban harimau bukit Siguntang”ucapnya penuh kalimat bijak.
” Harimau itu memiliki nama atau julukan kek” tanyaku penasaran.
” Tidak ada nak, warga desa lebih senang memanggil harimau bukit Siguntang dengan sebutan nenek imau, selama ini hidup warga desa selalu menjaga hutan sehingga harmoni kehidupan antara alam dan manusia tetap terjaga dan saling menghormati ” ujar kakek Kalam sembari menyeruput kopi kentalnya.
Beberapa bulan terakhir, ada serombongan orang tak di kenal masuk desa, dan sempat berpapasan denganku di ujung desa, menanyakan arah masuk bukit Siguntang.
Tapi pertanyaan orang yang tidak aku kenal, menjadi buah pikiran ku, semalaman aku tak bisa tidur, ada apa orang orang yang tidak pernah aku kenal ingin ke bukit Siguntang.
Ku buang jauh jauh semua  pikiran jelek di kepalaku, aku bergegas pulang kerumah kakek, untuk memijit badan kakekku yang kecapean usai bertani di ladang.
” Nak, beberapa bulan lagi desa ini akan menggelar acara adat memberi makan harimau di bukit Siguntang, semua warga pasti akan berkumpul di lapangan desa” kata kakek Kalam.
” Memberi makan harimau kek, apa tidak bahaya” tanyaku penuh kecemasan.
” Tentu tidak nak, sebab bukan dengan binatang kita kasih makan harimau bukit Siguntang, tetapi kita gelar acara bersih desa dengan mengundang warga desa membawa hasil panen raya, untuk di doakan tetua adat sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan, namanya saja memberi makan harimau, hanya sekedar sebutan saja nak” kata kakek lagi.
” Tapi kek, beberapa hari yang lalu aku pernah bertemu dengan segerombolan orang yang tak kukenal, menanyakan arah masuk bukit Siguntang” kataku.
” Kenapa engkau tak memberi tau nak, biar kabar ini kita sampaikan ke pasirah Sisi,dan tetua adat desa” Jawab kakekku.
” Ambil obor di belakang nak,kita harus beritahu pasirah sidi,jika ada orang luar masuk ke bukit Siguntang”
Dengan langkah cepat,kakek menarik tanganku , berpuluh rumah aku lalui,sampailah di sebuah rumah tinggi, lampu teplok minyak tanah yang tergantung di halaman rumah menerangi pelataran pasirah sidi.
” Wah gawat , desa kita bakal dapat bencana besar pasirah” suara Kakek penuh rasa kawatir.
” Ada apa kakek Kalam, apa sudah melihat bencana yang akan terjadi di desa kita”tanya pasirah sidi.
” Cucuku ini,si Perayau bercerita bahwa ada orang asing mau masuk ke bukit Siguntang, itulah hutan terakhir milik adat dan warga desa kita pasirah, segera kita umumkan ke warga besok kita masuk ke hutan bukit Siguntang ” kata kakek penuh kecemasan.
” Besok pagi, aku minta amtor keamanan desa untuk menabuh kentongan ,agar warga desa berkumpul di lapangan desa,dan kita akan menuju bukit Siguntang” kata pesirah sidi.
puluhan warga desa termasuk kakek Kalam, dan aku ikut masuk ke dalam hutan bukit Siguntang, perjalanan panjang dan melelahkan terbayar dengan ke rindangan hutan bukit Siguntang, pepohonan besar masih terjaga,akar sulur masih menjuntai dari pohon,hutan masih terlihat sangat terjaga.
Mataku tertuju pada satu pohon yang kulitnya baru terkelupas oleh senjata tajam, aku mendekati pohon dan melihat ke bawah pohon, ada jejak sepatu di sana, lebih dari enam jejak kaki itu, jejak itu masuk ke dalam hutan.
” Kek, ini ada jejak sepatu, atau jangan jangan pemburu liar kek “
Kakek menarik masuk ke dalam hutan, sementara pesirah sidi menyisir ,sisi Utara hutan, mata kakekku nanar melihat patahan ranting bekas Ken injak kaki, penuh darah kering, kakek makin waspada dan kawatir jika nenek imau jadi korban pemburu liar.
Sontak saja, teriakan kakek Kalam menggema di bukit Siguntang, pesirah sidi dan warga berlarian ke arah kakek, di depannya ada dua pemburu tengah menguliti nenek imau, kulit dan bagian kepala nenek imau sudah di genrungkan di kayu yang sengaja di potong untuk menjemur kulit nenek imau.
” Mereka pembunuh nenek imau itu, pesirah tangkap mereka, bawa ke desa adili untuk bertanggung jawab kepada warga desa” teriak kakek Kalam ,dengan nada kalap.
Dua pemburu tak berkutik, tangan mereka di ikat akar rotan, di gelandang ke desa bersama dengan barang bukti kulit harimau yang sudah di kuliti, dan di serahkan kepada aparat keamanan.
” Masuklah kerumah nak, hari sudah larut malam, tak baik kena angin malam” kata ibuku.
Ya, aku hanya bisa mengingat peristiwa puluhan tahun lalu bersama kakek, kini tak ada lagi persembahan memberi makan harimau di waktu tertentu, sejak nenek imau tumbang di ujung peluru pemburu, desaku tak ada lagi penjaganya yang mengingatkan akan terjadi bencana dan akan ada penyakit menyerang desa.
Di cahaya rembulan, aku hanya bisa mengintip bukit Siguntang yang tinggal cerita, tak ada lagi suara burung dan siamang yang menjerit, tak ku temukan lagi petai hutan dan jerat rusa,yang ada hanyalah perkebunan sawit yang maha kuasa melindas benteng terakhir desaku bukit Siguntang.
Sanggar imaji Pamsel 29 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *