Sarolangun — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sarolangun terus mengembangkan program ketahanan pangan melalui kegiatan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Salah satu kegiatan yang saat ini menunjukkan hasil nyata adalah budidaya ikan lele yang dikelola bersama warga binaan.
Dalam kegiatan panen yang dilaksanakan di area SAE Lapas Kelas IIB Sarolangun, sebanyak 3 ton ikan lele berhasil dipanen setelah melalui masa budidaya selama kurang lebih tiga bulan. Dengan harga jual mencapai Rp20.000 per kilogram, hasil panen tersebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp60 juta.
Program budidaya ikan lele ini tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Warga binaan yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut telah melalui tahapan asesmen dan sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) serta berasal dari kategori narapidana tindak pidana umum, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan dalam program asimilasi.
Melalui kegiatan SAE, warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai proses budidaya ikan, mulai dari pemberian pakan, pemeliharaan kualitas air, pengawasan pertumbuhan ikan hingga proses pemanenan dan pemasaran. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat.
Dari sisi permodalan, pengelolaan usaha budidaya ikan lele dilakukan melalui pola bagi hasil dengan Koperasi Primkopasindo Lapas Sarolangun. Skema tersebut menjadi salah satu bentuk pengelolaan kegiatan pembinaan yang diarahkan agar program dapat terus berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi pembinaan warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIB Sarolangun menyampaikan bahwa kegiatan ketahanan pangan melalui SAE merupakan bagian dari upaya menjadikan pembinaan di Lapas tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian, tetapi juga memberikan keterampilan produktif.
“Panen tiga ton ikan lele ini merupakan bukti bahwa program pembinaan melalui SAE dapat memberikan hasil yang nyata. Yang paling penting bukan hanya nilai ekonominya, tetapi proses bagaimana warga binaan belajar bekerja, bertanggung jawab, disiplin dan memiliki keterampilan yang nantinya dapat mereka gunakan setelah kembali ke masyarakat,” ujar Kalapas Sarolangun.
Ia menambahkan, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan produktif tetap dilaksanakan berdasarkan hasil asesmen dan mekanisme sidang TPP, sehingga program pembinaan dapat berjalan secara terarah dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kami berharap kegiatan ini terus berkembang. Ke depan, SAE Lapas Sarolangun tidak hanya menjadi tempat untuk menghasilkan produk pangan, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan pembinaan yang mampu menciptakan warga binaan yang lebih mandiri dan siap kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Keberhasilan panen ikan lele tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pembinaan di Lapas dapat berjalan seiring dengan program ketahanan pangan, pemberdayaan warga binaan, dan pengembangan kegiatan ekonomi produktif. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, warga binaan diharapkan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih mandiri dan produktif setelah bebas.
Reporter Wan
