Refleksi PPN XIII
Karya: Doddy Ahmad Fauzi
Betapa menyedihkan
ketika penyair lebih rajin
memposting foto selfie
ketimbang mengirimkan
larik-larik yang mengusik
menggelitik dampal kaki langit
seakan ia tak percaya diri
puisinya akan melahirkan permenungan
…
Pertemuan Penyair Nusantara(PPN) XIII telah berakhir. Tak kurang dari 250 penyair pulang ke negara atau daerah asalnya masing-masing dengan membawa beragam kenangan indah. Dan bersiap menghadiri Festival Puisi Nusantara(FPN) XIV-PPN selanjutnya berganti nama menjadi FPN-2026 di Nanggroe Aceh Darussalam.
PPN XIII sebagai forum sastra berlevel internasional tentu untuk menyelenggarakannya dibutuhkan dana yang besar. Pengorbanan waktu, tenaga juga biaya dari semua pihak yang terkait. Bagi panitia tentu rangkaian acara PPN XIII yang sudah dimulai beberapa bulan yang lalu tentu sangat melelahkan.Pun demikian bagi peserta yang harus mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk berpartisipasi di forum tersebut.
Dengan gambaran besarnya pengorbanan tersebut tetiba muncul di benakku sebuah pertanyaan “nakal”-sok idealis-, apa yang kau bawa pulang dari PPN XIII? Ya, apa yang akan kau berikan kepada komunitas sastra di daerahmu?
Melalui pertanyaan tersebut penulis bermaksud menggugat kesadaran kita sebagai bagian dari PPN XIII, oleh-oleh apa yang akan kita berikan untuk komunitas dan daerah di bidang sastra? Sebagai duta sastra para peserta memiliki tanggung jawab moral membawa cinderamata untuk komunitas dan daerahnya masing-masing.
Apa hanya sebatas album selfie berlatar PPN XIII, sebagaimana kritik yang disampaikan oleh Doddy Ahmad Fauzi(DAF) dalam puisinya, Refleksi PPN XIII, pembuka tulisan ini.
PPN XIII adalah sebuah forum yang berisikan penyair kelas wahid dari berbagai negara. Yang membagikan ilmu dan gagasannya melalui seminar yang digelar secara maraton oleh panitia. Atau seminar dan diskusi non formal yang digelar oleh peserta PPN XIII di lobby hotel sambil menunggu Grab, di lobby teater kecil TIM di sesela sesi acara dan tempat-tempat lain.
Interaksi sesama penyair di selama PPN XIII seharusnya bisa menjadi ajang persenggamaan massal ide dan gagasan yang melahirkan konsep segar untuk sastra yang lebih baik di masa mendatang. Dan konsep tersebutlah yang akan menjadi oleh-oleh para peserta.
Bila hal itu bisa kita realisasikan di setiap PPN, tentu harapan menjadikan sastra Indonesia bisa berkiprah di jagat sastra dunia akan terwujud. Tapi bila kita tidak mampu mewujudkannya, maka PPN hanya akan menjadi latar selfie para penyair.
Jadi, apa yang kau bawa pulang?
Republik NGOTA Ness 6, 18 September 2025





