Catatan dari pojok TIM: apa yang kau bawa pulang?

oleh -390 Dilihat

Refleksi PPN XIII 

Karya: Doddy Ahmad Fauzi 

Betapa menyedihkan 

ketika penyair lebih rajin

memposting foto selfie 

ketimbang mengirimkan 

larik-larik yang mengusik

menggelitik dampal kaki langit

seakan ia tak percaya diri

puisinya     akan     melahirkan permenungan

Pertemuan Penyair Nusantara(PPN) XIII telah berakhir. Tak kurang dari 250 penyair pulang ke negara atau daerah asalnya masing-masing dengan membawa beragam kenangan indah. Dan bersiap menghadiri Festival Puisi Nusantara(FPN) XIV-PPN selanjutnya berganti nama menjadi FPN-2026 di Nanggroe Aceh Darussalam.

PPN XIII sebagai forum sastra berlevel internasional tentu untuk menyelenggarakannya dibutuhkan dana yang besar. Pengorbanan waktu, tenaga juga biaya dari semua pihak yang terkait. Bagi panitia tentu rangkaian acara PPN XIII yang sudah dimulai beberapa bulan yang lalu tentu sangat melelahkan.Pun demikian bagi peserta yang harus mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk berpartisipasi di forum tersebut. 

Dengan gambaran besarnya pengorbanan tersebut tetiba muncul di benakku sebuah pertanyaan “nakal”-sok idealis-, apa yang kau bawa pulang dari PPN XIII? Ya, apa yang akan kau berikan kepada komunitas sastra di daerahmu? 

Melalui pertanyaan tersebut penulis bermaksud menggugat kesadaran kita sebagai bagian dari PPN XIII, oleh-oleh apa yang akan kita berikan untuk komunitas dan daerah di bidang sastra? Sebagai duta sastra para peserta memiliki tanggung jawab moral membawa cinderamata untuk komunitas dan daerahnya masing-masing. 

Apa hanya sebatas album selfie berlatar PPN XIII, sebagaimana kritik yang disampaikan oleh Doddy Ahmad Fauzi(DAF) dalam puisinya, Refleksi PPN XIII, pembuka tulisan ini.

PPN XIII adalah sebuah forum yang berisikan penyair kelas wahid dari berbagai negara. Yang  membagikan ilmu dan gagasannya melalui seminar yang digelar secara maraton oleh panitia. Atau seminar dan diskusi non formal yang digelar oleh peserta PPN XIII di lobby hotel sambil menunggu Grab, di lobby teater kecil TIM di sesela sesi acara dan tempat-tempat lain. 

Interaksi sesama penyair di selama PPN XIII seharusnya bisa menjadi ajang persenggamaan massal ide dan gagasan yang melahirkan konsep segar untuk sastra yang lebih baik di masa mendatang. Dan konsep tersebutlah yang akan menjadi oleh-oleh para peserta.

Bila hal itu bisa kita realisasikan di setiap PPN, tentu harapan menjadikan sastra Indonesia bisa berkiprah di jagat sastra dunia akan terwujud. Tapi bila kita tidak mampu mewujudkannya, maka PPN hanya akan menjadi latar selfie para penyair.

Jadi, apa yang kau bawa pulang?

Republik NGOTA Ness 6, 18 September 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.