Kekuatan Seniman ,Terletak Pada karya Dan Kemampuannya Membangun Relasi

oleh -305 Dilihat
Batanghari, informasikita.com – Dalam dua tahun terakhir ini, grafik interaksi ku dengan seniman lokal maupun nasional meningkat cukup tajam. Interaksi itu terjadi di dunia maya juga di dunia nyata. Melalui WAG ataupun festival yang kuikuti.
Dalam interaksiku dengan para senior tersebut-diukur dari lamanya berkesenian secara kontinyu-, kutangkap sebuah kegelisahan bahkan mendekati kecemasan akan nasib dunia kesenian. Semua itu berpangkal pada kondisi tidak adanya relasi yang “mesra” antara seniman dengan pihak eksternal dunia kesenian.
Pihak-pihak yang punya otoritas full untuk menentukan kebijakan-anggaran dan aturan, baca; pemerintah-,juga pihak-pihak yang memiliki power finansial(baca; pengusaha). Hal ini hampir terjadi di seluruh penjuru negeri, tidak terkecuali Batang Hari.
Soliter dan Solider.
Sastrawan dan pemikir besar Prancis Albert Camus dalam cerpen legendarisnya The Artist At Work, memberi ajar kepada kita bahwa Seniman harus mampu menjadi makhluk Soliter, makhluk yang resah dan kesepian sepanjang hayatnya. Yang dengan ke-Soliter-an tersebut ia akan memahami makna Solider. Atau sebaliknya, seniman harus menjadi makhluk Solider untuk memberi makna ke-Soliter-annya.
Nah! Sebagian besar seniman itu hanya merasa nyaman pada posisi ke-Soliter-annya, terperangkap dalam kerja-kerja yang berorientasi kepentingan individu, melahirkan karya.
Kita lupa bahwa di luar ruang sempit bernama studio ,atau ruang kerja seni ada ruang yang lebih luas bernama dunia  kesenian. Habitat sekaligus panggung kesenian, di sinilah tempat lahirnya para seniman, yang keberlangsungannya menuntut sikap ke-Solider-an, merekalah pemikir kesenian.
Dari merekalah lahir konsep dan strategi berkesenian, yang menjadi semacam pijakan dalam.melahirkan karya seni dan arah yang hendak dituju dalam berkesenian.
Tidak semua seniman mau dan mampu menjadi pemikir kesenian hal tersebut dikarenakan perbedaan karakter dan kemampuan.
Dibutuhkan jiwa solider dan kemampuan meramu idealisme dan pragmatisme untuk menjadi pemikir kesenian. Dan di situlah letak kekuatan seorang seniman; memiliki kemampuan menghasilkan karya dan mempunyai keahlian menjalin relasi.
Dari relasi tersebut akan lahir kebijakan aturan dan anggaran untuk menjaga kesinambungan kehidupan kesenian dan seniman. Sampeyankah salah satu seniman yang akan meramaikan ruang sunyi pemikir kesenian tersebut? Semoga
M Syuaib Seniman kebun ,Penulis Tinggal di Batanghari,Republik NGOTA Senami, 28 Januari 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.