Kopi pagi terasa menghangatkan tenggorokanku, sebatang rokok masih terselip di sudut bibirku, di layar gawaiku masuk satu pesan yang begitu mengetuk relung hati paling dalam.
“Ah, ternyata hanya sebatas pemberitahuan saja”
Tak pernah terbersit sedikitpun di hatiku,untuk mencari satu pengakuan atas karya karya sastra, yang selama ini mengalir begitu saja,entah tulisan cerpen, puisi,dongeng anak,naskah filem,entah apalah namanya,persetan lah..
Bagi pengakuan seorang yang tampilannya agak Nyeni, sepertiku sudah jadi keseharian,rambut gondrong, hobi menyeruput kopi dan menghisap rokok,tak bisa lepas dalam kehidupan sehari hari, meskipun terkadang istriku terlalu rewel mengingatkan soal kesehatan ku, tapi bagiku itulah rasa Nyeni yang nyaman.
Beda lagi soal karya, jika di banding dengan para seniman yang ku kenal di Merangin,seperti kang Asro almurthaw (yang mengajariku menulis sastra),Mas Bay, Bang Ucok, Guru Aan, Mas ho ho dan dosen Wiko Antoni, karyaku seperti buku cerpen,dongeng anak,dan tulisan esai belumlah seberapa,dan sepertinya aku tak layak mengaku sebagai seniman,tapi cukuplah tampil Nyeni bagiku juga kebanggaan.
Kadang rasa tak percaya diri, saat di undang jadi dewan juri atau jadi pembicara di depan orang lain,saat ada satu hajatan, misalnya di diknas atau sekolah lain, rasa minder itu muncul sesungguhnya aku bukanlah seperti orang menilai “hebat “terhadapku saat ini, kemampuan tidak ada, cuma sebatas percaya diri untuk menjaga kutukan tetap menjadi orang yang tampil Nyeni untuk menjadi seniman kata guruku Kang Asro Almurthaw.
Satu waktu dapat penghargaan dari balai bahasa Sumatra Selatan, atas jerih payah menulis puisi di Sumsel, penghargaan pelaku seni dan budayawan dari pemerintah daerah Merangin, sejumlah penghargaan dari para penerbit sebagai penulis terpilih, penghargaan dari beragam organisasi malah menjadi beban bagiku, apalah dayaku bukan seniman .
Pesan yang ku baca pada layar gawaiku pagi ini, kesepakatan bersama juri FLS3N dan O2SN ,menjadi cambuk bagiku,bahkan menjadi seniman ternyata butuh titel bukan karya dan penghargaan atas penghargaan kekaryaan.
Satu hal yang menarik bagiku, saat di undang pada pertemuan panggung penyair III di Taman Ismail Marzuki, sempat berguru dengan maestro penyair Sutarzi Calzum Bahri,bahwa tugas kita hanya berkarya,bukan mencari pengakuan atas karya kita,apalagi soal titel seseorang, sebab karya itu Kekayaan intelektual seseorang, yang patut di hargai ..
Catatan Kecil Yanto bule mei 2026
