Muarabulian – Dalam dunia santri—baca: pesantren—relasi antara santri dan kiai dibangun di atas pondasi ta’dzim, di bawah naungan kaidah sam’an wa tha’atan. Maka ketika pertengahan April lalu Gus Wafa memintaku menjadi pemateri dalam Sarasehan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh PP. Darul Muntaha, sesungguhnya aku berada pada posisi yang sulit untuk menolak.
Permintaan itu sejatinya telah beliau sampaikan jauh sebelum acara BWCF di Cirebon digelar. Namun sengaja tak kutanggapi, semata karena merasa diri belum pantas menjadi pemateri. Diam-diam aku berharap waktu akan melarungkan keinginan beliau itu dengan sendirinya. Tetapi rupanya kali ini waktu tidak berpihak kepadaku.
Menyadari posisiku yang nyaris tak memiliki kuasa untuk menolak, aku mencoba menawar: bukan menolak acaranya, melainkan meminta agar pelaksanaannya diundur. Akhirnya kami sepakat kegiatan tersebut dilaksanakan pada 25 April 2026.
Tanggal itu kupilih karena bertepatan dengan Haflah Akhirussanah di PP. Ihya’ Ulumaddin, Sebapo. Jadi sejak pagi hingga siang aku berkegiatan di Darul Muntaha, sementara sore hingga malam melanjutkan perjalanan menuju Ihya’.
Dua hari sebelum kegiatan dilaksanakan, pada malam harinya aku menyempatkan sowan ke ndalem. Selain bersilaturahmi, juga berkonsultasi dengan beliau terkait format kegiatan dan materi yang akan disampaikan.
Dalam arahannya, beliau dawuh bahwa kegiatan tersebut bertujuan menambah wawasan Kang dan Mbak santri agar kelak, sepulang dari pondok, mereka tidak gagap menghadapi kemajuan zaman. Sebuah cara pandang yang menurutku cukup revolusioner.
Santri memang dituntut menjadi sosok yang siap ditempatkan di mana saja—tidak hanya di madrasah, masjid, atau majelis taklim. Santri juga harus siap mengisi gedung-gedung birokrasi dan ruang-ruang publik lainnya. Santri tidak cukup hanya mampu menjadi imam, memimpin tahlil, atau membaca doa. Lebih dari itu, santri juga harus mampu menulis berita, mencipta puisi, bahkan membaca realitas sosial dengan mata yang jernih.
Pagi itu, selepas acara ngopi di beranda ndalem, aku berjalan menuju lokasi kegiatan—tentu sambil membawa satu pertanyaan yang sejak tadi berputar-putar di kepala:
“Iki engko aku ngomong opo, yo?”
Bertindak sebagai moderator pagi itu adalah Pak Nahwan, salah seorang guru di DarMun yang siap mengampu pelajaran apa saja. Sungguh, serba bisa.
Di hari yang sama, di kelas SMP beliau bisa menjelaskan perbedaan kutipan langsung dan tak langsung. Beberapa jam setelahnya, di kelas SMA, beliau menerangkan dasar-dasar trigonometri. Pokoknya, beliau selalu siap menjadi penyelamat ketika ada guru yang berhalangan hadir.
Setelah acara dibuka dan aku diperkenalkan oleh Pak Ikhwan—tentu dengan bumbu yang sedikit dilebih-lebihkan—tibalah sesi yang paling tidak kusukai: bercuap-cuap di hadapan audiens.
Padahal sudah berkali-kali kusampaikan kepada beliau bahwa salah satu dari sekian banyak kekuranganku adalah public speaking. Entah kenapa, bahasa lisanku terasa tak serapi bahasa tulisku sendiri.
Dan lucunya, aku hanya bisa mengangguk ketika beliau menarik kesimpulan:
“Biasanya penulis itu bahasanya lebih tertata dibanding orator.”
Aku mengangguk lagi.
Meski dalam hati diam-diam berkata:
“Gus, jenengan belum pernah lihat aku gugup di depan audiens, sih.”
Dengan menata niat bertakdzim kepada beliau, mulailah kuucap salam dan mukadimah standar ala pesantren—maklum, acaranya memang di pesantren.
Perlahan aku masuk pada materi: apa itu jurnalistik beserta turunannya. Setelah membedah tipis-tipis tentang jurnalistik, kujelaskan pula ragam karya tulis; mulai dari karya fiksi seperti puisi dan prosa, hingga karya nonfiksi seperti berita, artikel ilmiah, dan tulisan berbasis data lainnya.
Sebelum masuk sesi pendalaman, kutawarkan kepada peserta:
“Mau bahas yang fiksi atau nonfiksi?”
Dan mereka sepakat memilih puisi.
Dalam hati aku bersyukur. Setidaknya, aku sedikit lebih mengerti topik itu dibanding yang lain.
Suasana pun perlahan mencair. Aku mulai agak lancar bercuap-cuap. Dan detik jam terasa berdetak begitu cepat hingga akhirnya azan Zuhur berkumandang—penanda bahwa obrolan tentang puisi siang itu harus disudahi.
Di akhir sesi, kusediakan empat eksemplar Oasestra sebagai apresiasi bagi peserta yang berani tampil membaca puisi.
Dan sebagai catatan penutup: menjadi pemateri dalam sarasehan ini adalah kali keempat aku “dipaksa” Gus’e untuk menjadi sesuatu yang beliau yakini bisa kulakukan. Dan anehnya, semuanya selalu berakhir indah.
Maka ke depan, apa yang beliau dawuhkan rasanya memang tak seharusnya kutolak—kalau menawar, mungkin masih boleh.
Kemampuan memetakan potensi seseorang, menganalisanya, lalu menarik kesimpulan yang tepat bukanlah kemampuan yang dimiliki semua orang. Hanya orang-orang tertentu yang dianugerahi hal semacam itu. Dalam tradisi Jawa, mungkin inilah yang disebut:
“Weruh sak durunge winarah.”
Dan seandainya suatu hari nanti beliau dawuh:
“Jenengan coba ikut meramaikan kontestasi pemilihan eRTe.”
Maka dengan cepat aku akan menjawab:
“Ngapunten, Gus… kalau yang ini saya tidak bisa sam’an wa tha’atan.”
Oleh: M Syuaib
Republik NGOTA Senami, 18 Mei 2026
