Siang itu cuaca sangat panas, jeruji besi ruang tahanan polres Merangin,terasa pengap dengan banyaknya pengunjung yang membesuk keluarganya yang tengah bermasalah hukum.
Dari banyaknya para tahanan yang mendekam di sana, informasikita.com,terpaku pada sosok anak muda,yang berkepala gundul dan mata terlihat lebam, duduk di lantai rutan polres Merangin dengan tatapan mata kosong.
Penasaran dengan kasus yang di alaminya,informasikita.com ,mencoba untuk ngobrol dari obrolan tersebut,ternyata anak muda berkepala gundul dan mata lebam,merupakan pelaku LGBT, sebelum dirinya di laporkan korban,pelaku ternyata di hajar oleh keluarga korbannya.
Dari sinilah, awal mula fenomena kaum LGBT di Merangin,mulai terungkap ke permukaan,dan ternyata fenomena LGBT di Merangin seperti gunung es, hanya kepundannya saja yang terlihat, tetapi besarnya masalah belum terlihat.
Berikut liputannya
Fenomena lesbian,gay, biseksual dan transgender (LGBT ) di Merangin,mulai mengkhawatirkan,pasalnya kasus LGBT terungkap saat salah satu pelaku,yang juga mahasiswa semester 6 disalah satu universitas di Merangin tertangkap usai di laporkan korbannya.
Dari keterangan pelaku LGBT kepada informasikita.com ,mengatakan bahwa sebelum dirinya menjadi pelaku LGBT,dia pernah menjadi korban sodomi saat masih sekolah dasar.
” Sebelumnya saya dak pernah punya orientasi sek menyimpang, Kehidupan saya normal saja,tetapi setelah saya jadi korban sodomi , orientasi sek saya berubah” ungkap MR.
Di akuinya, Para pelaku sodomi yang melakukan aksinya kepada MR, masih satu kampung, dan yang pertama menyodomi dirinya orang luar kabupaten.
” Dulu saat kelas 1 SD,saya pernah jadi korban sodomi, yang pertama orang luar Merangin, dan setelah itu saya di perkosa lima orang dan mereka masih satu kampung saya” ujarnya pilu.
Awalnya orientasi seksual nya menyimpang, sejak mulai dirinya tumbuh dewasa, kadang ada rasa ingin mencoba tetapi masih takut, apalagi saat melihat filem blue LGBT perasaan untuk mencoba makin jadi.
” Sejak mulai tumbuh dewasa, perasan untuk mencoba mulai ada tetapi masih takut takut, puncaknya pada 2020 lalu,saya di kenalkan kawan yang juga pelaku LGBT dan meminta gabung dalam satu aplikasi kaum LGBT, dari sanalah saya mulai berkencan ” ucapnya lagi.
Di jelaskan MR, bahwa di Merangin sangatlah banyak kaum LGBT, dari semua kalangan,dan mereka akan bertemu usai berkencan lewat aplikasi biru kaum gay.
” Di Merangin ini sangat banyak, mereka berasal dari beragam kalangan, dan biasanya mereka akan ketemu di kos kosan untuk melampiaskan nafsunya” Ujarnya.
Mereka lebih memilih kos kosan bukan hotel,karena mereka mudah untuk di curigai, sebab tidak mungkin masuk kamar sesama laki laki.
” Kos kosan jadi tempat aman, kalau ke hotel pasti curiga ,tidak mungkin masuk kamar laki laki sama laki laki, dan itu sudah pasti pilihan mereka untuk menyalurkan pilih di kosan, yang tidak di curigai”katanya.
Biasanya kaum pelangi, mereka akan menutupi prilaku menyimpang mereka dengan cara lebih baik,dan hidup secara normal dan ada juga yang sudah punya pasangan.
” Kalau kehidupan mereka seperti normal normal saja, kami lebih bisa menutupi kehidupan menyimpang kami dengan hal positif,dan hidup seperti orang biasa pada umumnya,soal pekerjaan mereka tidak pernah mau menyebutkan kerja di mana ,tetapi saya tau mereka kerja apa” ucapnya.
Dari pengakuan MR juga,menegaskan bahwa dirinya memiliki kehidupan asmara yang normal,sebab ada pacar perempuan yang berasal dari kabupaten kerinci.
” Saya juga punya pacar perempuan bang,tinggal di kerinci tapi saya yakin tidak tau dengan prilaku sek saya yang menyimpang” tegasnya.
Bahkan MR meminta, informasikita.com ,untuk mendownload salah satu aplikasi lewat gawai, Ternyata aplikasi biru kaum gay begitu mudah di download ,dari grup tersebut banyak yang mengunakan foto propil bukan wajah asli tetapi banyak mengunakan gambar animasi,untuk menyamarkan indentitas aksinya.
” Biasanya kalau sudah saling chat, baru membuka diri siapa mereka dan tinggal dimana, dan langsung bisa kencan” Ujarnya.
Di akhir cerita pelaku,dirinya juga mengakui bahwa,kasus yang menjerat nya ,karena berkencan dengan salah satu korban yang masih di bawah umur.
” Saya dan korban itu berteman dekat, sebab keluarganya sudah seperti keluarga sendiri, Saat itu saya juga mencoba dekat dengan korban, dan mendapatkan balasan jadi saya ajak , saya sebagai perempuan nya,prilaku kami ketahuan saat orang tuanya melihat chat mesum kami” ungkapnya.
Ada hal menarik saat MR, usai di besuk dari keterangan keluarganya, mengatakan bahwa keluarga selama ini tidak pernah menduga jika salah satu keluarga bisa jadi LGBT.
Kepada keluarga ,MR sering mengeluhkan sakit pinggang,dan itu di anggap normal oleh keluarganya,karena tidak mengetahui jika ada penyimpangan prilaku seksualnya.
” Saya melihat keluarga saya ini biasa saja,dan normal normal saja tapi memang sering mengeluhkan sakit pinggang saja” ungkap pria setengah baya ini.
Dari cerita MR dan fenomena LGBT di Merangin,menjadi alarm kuat semua pihak,bahwa keluarga wajib di lindungi dari penyimpangan seksualitas dengan lebih waspada terhadap pergaulan anak anak sekarang,dan saat ini MR masih menunggu nasibnya yang terjerat masalah hukum di polres Merangin.
Reporter Bule
