Topi Loreng Dan Boni

Cerita Anak Yanto Bule

 

Topi Loreng Dan Boni

Lonceng tanda masuk belajar terdengar jelas, anak anak berlarian masuk kelas, meskipun sekolah dengan dinding permanen di depannya,tetapi di bagian belakangnya separo dari bentuk bangunannya masih mengunakan kawat besi,sebagai ventilasi udara nya. Nn

Ya,sekolah dasar Inpres,yang di bangun di zaman presiden Soeharto, dengan sekolah SD di setiap desa di harapkan anak anak bisa wajib belajar sembilan tahun.

Bagiku ,sekolah dengan bangunan beton,menjadi satu satunya bangunan megah di desaku,yang masih sangat terbelakang dari pembangunan, jalan desaku masih batu kerikil, agar di setiap kali hujan tidak becek, maklumlah desaku sangatlah jauh dari pusat ibukota kabupaten,yang harus di tempuh dengan waktu Berjam jam lama nya dengan kendaraan roda dua.

Jangankan roda dua, di desaku memiliki sepeda ontel saja sudah sangat mewah, jangan tanya soal penerangan listrik, di rumahku saja yang ada hanyalah lampu minyak, dan setiap sorenya kaca semprong nya harus di bersihkan agar pendaran cahayanya bisa luas dan menerangi seluruh ruangan di rumahku.

Di saat pagi, akan berangkat sekolah sudah pasti ibuku selalu mengingatkan agar aku membersihkan lubang hidung terlebih dahulu,sebab asap sisa pembakaran minyak tanah di lampu pasti terhisap hidung,kalau tidak di bersihkan sudah pasti jadi bahan olokan kawan di kelas,sebab lubang hidung ku menghitam seperti jelaga.

Lonceng tanda masuk jam belajar sudah di pukul oleh pak Wid,penjaga sekolah,tepat pukul 7.30 waktunya anak anak masuk kelas, Tak lama pak Suroso wali kelas masuk bersama dengan satu orang berpakaian loreng malvinas ,masuk dengan sangat gagah.

“Pagi anak anak”

“Pagi pak guru”

” Pagi ini,sekolah kita kedatangan bapak tentara yang tengah membangun desa,dan salah satunya bapak bapak tentara akan mengajar di sekolah kita”

Hening suasana kelasku, di depan kelas berdiri pria tegap dengan seragam loreng yang gagah , pakaiannya rapi,sepatunya mengkilat tersemir,dan topi rimba khas tentara di pakai di atas kepalanya,betapa gagahnya sosok tentara di depan kelasku.

” Perkenalkan nama saya sertu Taib, anggota kodim yang bertugas di sini,dalam rangka ABRI masuk desa”jelas pak Suroso kepala sekolahku.

” Selama satu bulan ke depan saya ,akan mengajar mata pelajaran pendidikan moral Pancasila di sekolah ini”

Canda tawa kawan kawan sekelas, usai belajar selesai lonceng pertanda belajar selesai nyaring terdengar keras, berhamburan anak anak keluar kelas untuk segera pulang.

Siang itu,usai belajar dengan bapak tentara,aku bergegas pulang bersama temanku .

” Enak juga ya belajar sama tentara, selain disiplin cara belajarnya juga asik tidak kaku”

” Bagimu enak Boni,kamu bisa santai belajar,kalau aku malah takut salah,jangan jangan kena hukum di depan kelas”

Obrolan pulang sekolah di selingi dengan canda tawa, tak terasa perjalanan kami dari sekolah menuju rumah sudah dekat, memang berangkat dan pulang sekolah bagi kami anak anak desa selalu jalan kaki ramai ramai,sebab belum ada kendaraan di desaku yang bisa mengantar menuju sekolah.

” Mat, jangan lupa nanti sore kita ngaji di musola pak Hanan ya”

” Ok Boni,sebelum ke mushola kamu singgah kerumahku,biar kita bisa sama sama ngaji di sana ya”

Malam itu terasa berbeda di rumahku, bapak sejak sore sudah membersihkan lampu petromax jatah transmigrasi, meja dan kursi kayu sudah di bersihkan ibuku, lantai tanah di ruang tamu di sirami air ibuku, sehingga saat di pijak debu tidak berterbangan.

” Tumben pak, lampu petromax di hidupkan,mau ada acara apa di rumah kita pak”

” Nanti malam akan ada tamu di rumah, mereka adalah anggota ABRI masuk desa,mau berkunjung kerumah kita”

” O,begitu ya pak..tadi di sekolah juga ada tentara yang mengajar di kelasku pak, katanya dari kodim”

” Ya sudah, kamu bantu ibumu merebus pisang dan ubi ,siang tadi bapak petik di kebun belakang rumah kita, ajak adikmu membantu membersihkan gelas ya”

Suara azan isya,mengumandang usai sholat aku dan Mamat langsung pulang,untuk mengerjakan PR dari Bu guru Sri, langkah kecil aku ayunkan menuju rumah.

Sampai di depan rumahku,ternyata banyak orang berambut cepak,duduk melingkar di ruang tamu rumah ku, aku berjalan ke samping rumah menuju dapur dimana ibu terlihat tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk para tamu.

” Bu, biar aku bantu membawa minuman hangat untuk tamu ya,ibu bawakan rebusan ubi dan pisang saja”

” Kamu seperti almarhum kakekmu nak, yang tidak mau diam melihat orang lain sibuk di depannya ”

Suara obrolan di ruang tamu begitu renyah, tentara yang bertamu di rumah terpingkal pingkal kadang juga terdiam saat bapak menceritakan, bagaimana bapak dulu saat masih bertugas di Medang perang,begitu patriotik dan pemberani .

Ya, bapakku seorang pensiunan tentara di zamannya,ikut transmigrasi karena tertarik saat mengawal pesawat herkules yang mengangkut para transmigran menuju desa harapan.

Saat itu,cerita bapakku dirinya masih berpangkat sersan mayor,dan pernah menjabat sebagai komandan rayon militer di Kodam Diponegoro, dapat jatah kendaraan sepeda motor dan juga inventaris Seekor kuda untuk menunjang kedinasan bapak.

Tapi satu hari bapak pernah ke tangkap oleh pasukan Belanda dan di masukan ke dalam tangsi Belanda,untuk di interogasi, betapa sangat kejamnya para penjajah memberlakukan bapak, tanpa ampun dan penuh darah bapak di siksa,bahkan bentuk bekas penyiksaan yang di terima bapak,dua kuku kaki bapak pecah dari pengakuan bapak,ibu jari kaki di himpit kaki meja yang di duduki di rasanya oleh beberapa orang tentara Belanda.

Pagi berlalu, aku dan adikku berangkat ke sekolah,ya seperti biasanya pakaian seragam merah putih, tas plastik dengan tali benang tersandang di pundak ku, tas plastik berisi beberapa lembar buku dan pena ku bawa ke sekolah, sepatu merk ATT setia menemani sekolahku.

Di kelas sudah ada kawan kawan yang piket, membersihkan lantai dan merapikan meja dan kursi kayu untuk kami belajar, sementara papan tulis dari triplek yang di cat warna hitam,dengan penghapus busa dan kapur tulis berjejer rapi, meja guru di depan kelas juga sudah di lengkapi dengan taplak meja,sehingga ruang kelas nyaman untuk belajar.

” Anak anak, besok pagi kita di minta untuk ikut upacara penutupan kegiatan ABRI masuk desa, di lapangan desa,kalian wajib hadir tepat waktu ya”

Pagi itu suasana lapangan Krida sakti, di desaku warga dan masyarakat penuh sesak ingin menyaksikan penutup ABRI masuk desa, ratusan tentara mulai berdatangan berbaris rapi,setelah mereka membangun jalan desa,jembatan dan fasilitas lainya.

Bukan hanya kegiatan fisik saja,para tentara membangun desa kami, di sekolah ada tentara yang ngajar, anak anak muda di berikan wawasan kebangsaan, warga di berikan pelayanan kesehatan gratis, perekaman KTP .

Sosok gagah dengan tongkat komando,mengambil apel,terlihat Bupati kepala Daerah ,juga ikut duduk di depan menyerahkan piagam kepada para warga yang ikut terlibat aktif.

Di kejauhan aku melihat bapak ikut berbaris menerima penghargaan dari komandan kodim, piagam dengan map bercorak batik bapak menerima dengan sangat gagah, seperti saat bapak aktif di tentara dulu .

” Hai Boni, ke sini ”

Aku berusaha menoleh ke arah suara,yang memanggil ku, aku lihat di kerumunan anggota tentara,ada tangan yang melambai sambil memanggil namaku.

Aku berlari ke arah kerumunan, begitu dekat langsung memeluk sertu Taib yang mengajarkan pendidikan moral Pancasila di kelasku, ada rasa kehilangan, ada rasa bangga di dadaku,aku bertekad untuk bisa jadi seperti sertu Taib,ya aku harus bisa jadi tentara.

Sebagai kenang-kenangan,aku di berikan topi rimba khas tentara untuk aku pakai di rumah, betapa harunya aku menerima kenangan dari tentara.

Lamunanku buyar, saat ibu menepuk pundak ku,dan menyuruhku mandi dan bergegas ke musola untuk mengaji.

” Mandi nak, sudah sore saatnya kamu mengaji ,menyiapkan iman mu untuk masa depanmu, simpan topi itu sebagai penyemangat belajarmu”

Malam bergulir,Derik jangkrik di bawah jendela mengusik pikiranku,segera ku tarik selimut agar tidurku lelap sampai pagi.

 

Pamenang 6 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *