Cerpen Yanto Bule
Sudah pasti setiap malam Minggu ,Bapak selalu menyuruhku membeli lotek Mbah Kasni, Meskipun menu loteknya hanya sederhana sekali, Seperti tebusan daun ubi, Serutan Pepaya muda yang di rebus, kecambah,Kacang panjang rebus,Dan yang pasti kiah kacang tumbukan Mbah po Karyo,di tambah gorengan bakwan, tahu asin dan tempe mendoan menjadi menu andalan setiap malam Minggu nya.
Ya di desaku, warung yang menjual makanan ringan sangat jarang,sebab setiap harinya warga desaku banyak yang berangkat pagi hari menuju ke ladang atau kebun, pulangnya pasti sudah sore,sehingga jika siang sudah pasti suasana desaku sepi,dan hanya rampai oleh anak anak yang pulang sekolah saja.
Bagiku malam Minggu sudah. Pasti malam yang di tunggu oleh bapak, biasanya sejak sore bapak sudah menyiapkan lampu petromax untuk di hidupkan, bahan bakar minyak tanah pasti di beli dari warung Bu kusnari,toko satu satunya di desaku yang menjual aneka sembako.
” Le, sebelum magrib kamu beli lotek Mbah Kasni, minta di buatkan sambel lotek yang pedas ya”
” Siap pak,nanti aku belikan lotek di Mbah Kasni, mumpung sepeda jengki belum di masukan kerumah okeh ibu “
Ku kayuh sepeda motor jengki pembelian ayah,melaju di jalan bebatuan, rumah rumah tetangga yang masih berdinding kayu,berjajar rapi ,ya jarak antara satu lokasi pekarangan dengan yang lain berjarak 50 meter, lampu teplok mulai di nyalakan,menambah suasana y desaku begitu asri.
” Mbah, buatkan empat bungkus lotek, satu yang pedas ya Mbah, untuk bapak beliau pesan untuk di buatkan yang pedas, habis plang dari kebun”
” Oalahhh,bapakmu dari dulu gak pernah berubah,kalau minta lotek selalu pedas le”
” Kata bapak, nanti gorengan jangan lupa di pisah ya Mbah “
Ayahku baru saja selesai menjalankan sholat magrib, Ibuku terlihat tengah menyiapkan piring,dan sedikit cemilan, teh tubruk hangat di buatkan ibu di cangkir kaleng yang besar.
” Kamu cepat ambil wudhu klau sholat magrib, ajak adikmu juga le”
Suara ibu langsung menggema, di ruang tamu rumah kami sore itu.
Ayah begitu lahap makan lotek Mbah Kasni yang baru ku beli, adiku Salma begitu menikmati gorengan tempe yang di beli tadi.
” Le, nikmatnya hidup di desa semua makanan masih higenis, tanpa ada racun tidak ada polusi, udaranya juga sangat sehat kalau di hirup nak”
” Betul pak, tidak ada bising kendaraan,yang ada suara burung dan suara ternak yang ada hampir di Setiap rumah tetangga kita pak”
” Makanya, jaga ke asrian desa kita ,desa ini akan ebih cepat maju sebab warganya juga guyub rukun , rasa kegotongroyongan juga sangat tinggi”
Malam itu, obrolan kami terputus sebab ada mang Kurdin yang datang kerumah,meminta tolong bapak untuk menyembelih ayam jagonya, Kata mang Kurdin dirinya takut melihat darah.
Terkadang hal sepele dan aneh aneh sering di temukan di desaku .
Sinar mentari pagi menyelinap di antara Dedaunan rindang pohon rambutan, buahnya mulai memerah khas rambutan Aceh,ya ..setiap pekarangan rumah di desaku selalu ada tumbuhan buah buahan seperti rambutan, manggis,hingga pohon durian,bahkan ada juga pohon cengkeh yang di tanam di dekat batas pekarangan, itupun jatah dari pemerintah,yang di ambil di balai desaku.
Rasa penasaran ku kepada Mbah Kasni, cukup menganggu pikiranku,sebab warung lotek yang buka hanya setiap Minggu sekali selalu ramai di kunjungi,bahkan banyak warga dari luar desaku yang pasti datang ke rumah Mbah Kasni.
” Pak, siapa sebenarnya Mbah Kasni itu” tanyaku penuh rasa penasaran.
” Mbah Kasni itu, orang biasa tetapi sebenarnya dia dulu salah satu pejuang, yang membantu memasarkan para tentara di barak Tentara nak”
” Pantesan rumahnya selalu rapi, dan masakan nya meskipun hanya khas makanan pedesaan banyak di sukai orang banyak pak”
” Itulah bedanya nak, kalau sekarang banyak makanan dari luar banyak mengandung pengawet, sementara yang di masak dan di jual Mbah Kasni merupakan masakan yang alami,dan di masak penuh dengan keseriusan”
” Berarti Mbah Kasni bisa di bilang pensiunan ya pak”
” Apapun penyebutan nya, Mbah Kasni adalah seorang yang berjasa untuk negara ini, dengan keahlian memasaknya Mbah Kasni memasak untuk para tentara kita dulu dalam mempertahankan kemerdekaan nak”
Penjelasan bapak, membuatku makin kagum terhadap sosok Mbah Kasni,yang tampil begitu bersahaja,tak menonjol siapa sebenarnya dirinya dulu.
Selain di kenal sebagai tukang lotek,Mbah Kasni juga di kenal bisa menolong orang yang tengah sakit.
Biasanya kalau ada warga yang terkilir, atau ke tempelan mahluk astral, yang tidak bisa di obati pak mantri Yunus,sudah pasti di bawa ke rumah Mbah Kasni untuk meminta bantuannya.
Dan yang membuat banyak warga makin segan, pertolongan yang di berikan Mbah Kasni tidak pernah mau menerima bayaran, terkadang warga lebih suka membawa gula kopi dan rokok untuk Mbah Kasni.
Bertahun aku pergi dari desaku, waktunya aku kembali ke rumah bapak dan ibuku, aku begitu rindu dengan suasana desaku yang asri,berbeda dengan udara ibukota yang panas dan penuh hiruk pikuk dunia.
Jalanan menuju desaku mulai rapi dan halus, seperti sudah banyak pembangunan di desaku, ternyata aku sudah lebih dari dekade setelah orang tuaku meninggal aku pergi merantau demi masa depanku,aku dan adikku menanti harapan di ibukota,dan kini aku kembali.
Rumah semi permanen peninggalan bapak, masih terlihat kokoh lampu halaman rumah juga masih kelihatan hidup, mungkin kang Sarwadi yang ku percaya mengurus rumah peninggalan bapak lupa mematikan lampu.
Langkah kakiku, memasuki pemakaman di ujung desa untuk sekedar melihat makam bapak dan ibuku, mataku tertuju pada satu nisan yang mulai lapuk,terlukis satu nama Mbah Kasni yang meninggal dunia hanya beberapa tahun lalu.
Plastik berisi kembang ku buka,lalu ku taburkan di malam Mbah Kasni, Lamat Lamat kalimah doa turut aku panjatkan doa untuk bapak dan ibuku,dan Mbah Kasni.
Selamat jalan Mbah,banyak cerita yang pernah aku dengar dari bapak tentangmu.
Sanggar imaji pamenang 8 juli 2026
