Oasestra Setetes Air di Padang Sastra, atau Segelas Teh di Senja Senami?

oleh -300 Dilihat

Ada yang datang dengan gagah, ada pula yang hadir sambil garuk-garuk kepala, malu-malu, kayak ketahuan ngutang di warung kopi. Nah, kumpulan puisi Oasestra karya Mochammad Syu’aib ini masuk kategori kedua: sederhana, tulus, kadang bikin dada hangat, kadang bikin kita pengen bilang, “Lho, kok begitu doang puisinya?” Tapi justru di situlah daya tariknya.

Buku ini memuat 78 puisi yang ditulis dalam rentang 2023–2025. Bayangkan, setelah dua dekade bung Syu’aib absen menulis, tiba-tiba nongol lagi, kayak mantan yang tiba-tiba kirim pesan tengah malam: “Apa kabar, Rindu?” Hasilnya: sebuah buku setebal 90 halaman, dengan judul manis: Oasestra, singkatan dari Oase Sastra.

Kelebihan yang Bikin Kita Angguk-Angguk

Pertama, mari kita kasih hormat. Oasestra ini kaya tema. Dari doa menjelang subuh, rindu pada bapak, sampai sindiran pada bangsa. Ada cinta-cintaan juga, tentu saja, karena apa arti hidup penyair kalau tidak meracik kata “rindu” jadi macam-macam lauk?

Puisi-puisinya penuh kesederhanaan yang jujur. Tidak neko-neko. Tidak sok memakai kata-kata yang bikin pembaca harus buka KBBI. Coba baca “Lelaki Tangguh”—itu tentang bapak, disampaikan dengan bahasa sehari-hari, tapi justru bikin hati kayak dipeluk.

Lalu ada pula kekuatan nuansa religius. Syu’aib ini jelas dekat dengan dunia doa. “Ajari Aku, Tuhan”, “Do’a Jelang Shubuh”, “Munajat Puisi”—semuanya mengalir dari pengalaman batin yang sungguh-sungguh. Membacanya bikin kita seperti ikut sujud di mihrab, walau masih ada sisa kopi dan rokok di meja.

Dan jangan lupa, ada sentuhan isu sosial dan kebangsaan. Di “Suatu Petang di Senami” atau “Tuhan; Indonesia”, penyair keluar dari bilik rindu personal, menoleh pada realitas. Tidak banyak, tapi cukup untuk bilang: “Oi, saya bukan penyair kamarmu doang, saya juga peduli pada republik ini!”

Kekurangan yang Bikin Kita Geleng-Geleng

Tapi, Bang, kita kan bukan tukang pijat yang kerjanya muji-muji. Kritik itu perlu, biar penyair nggak mabuk pujian sendiri. Nah, Oasestra ini juga punya beberapa lubang.

Pertama: repetitif. Kata rindu muncul kayak iklan odol di televisi—terus-terusan sampai bosan. Kadang kita pengen bilang, “Mas, coba ganti rindu itu dengan kata lain, kayak ‘kebelet’, ‘kangen gorengan’, atau apalah yang segar.”

Kedua: bahasanya kelewat lugas. Puisi “Aku Satu Sepi Sendiri” misalnya. Empat kata doang. Itu lebih mirip status Facebook jomblo ketimbang puisi. Boleh sih, tapi jangan kebanyakan.

Ketiga: kurang eksperimen bentuk. Semua puisi lurus, datar, kayak jalan aspal baru dibangun. Tidak ada permainan tipografi, tidak ada prosa liris, tidak ada ledakan gaya. Padahal sesekali main-main itu sehat, Bro.

Keempat: lokalitas kurang tergali. Padahal penyair tinggal di pedalaman Jambi. Bayangkan kalau ada lebih banyak detail tentang Sungai Batanghari, suara burung di Senami, atau aroma tanah basah kebun karet. Itu bakal bikin puisinya lebih khas, lebih lekat di ingatan.

Kesimpulan: Oase yang Bening, tapi Butuh Gelombang

Akhirnya, Oasestra ini seperti secangkir teh hangat di beranda Senami. Menenangkan, jujur, kadang manis, kadang hambar. Ada saat-saat kita ingin menikmatinya pelan-pelan, ada saat-saat kita ingin tambahin gula biar lebih nendang.

Kekuatan buku ini ada pada kejujuran dan kedalaman spiritual, juga ketulusan rindu yang berulang kali ditumpahkan. Tapi kelemahannya ada pada pengulangan tema dan diksi serta minimnya eksperimen.

Namun, mari kita akui: di tengah dunia puisi yang kadang sok rumit, kehadiran Syu’aib dengan Oasestra ini adalah oase kecil yang segar. Dan kalaupun ada yang kurang, bukankah setiap oase selalu menyisakan dahaga, agar kita mau kembali mencarinya?

Oi, Bung Syu’aib, teruslah menulis. Kalau perlu, sekali-sekali bikin puisi yang lebih “nakal”, biar pembaca kaget: “Lho, ini penyair Senami atau penyair kafe di Kemang?”

Asro Almurthawy, penulis yang juga penyair internasional selain itu masih menjabat sebagai ketua dewan kesenian Merangin sampai sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.