Jemputan Datang Di Rumah Ki Cahyo

oleh -303 Dilihat

Cerpen Yanto bule 

Neng nong neng Gung 

Blakemplak

Dengung gong

Suara tetabuhan dari Jathilan grup Margo Budoyo , terdengar sangat keras ,apalagi di tambah dengan saluran toa yang di pasang tinggi di pohon depan rumah pak Jumani.

Ya, siang itu Jathilan Mergo Budoyo dapat tanggapan dari tuang rumah,untuk menghibur sunatannya kuris,anak pak Jumani yang di khitan .

Asap kemenyan dengan umbo rampe,tersusun di depan alat alat seperti kendang, kenong,gong, slompret ,pecut cemeti, anyaman bambu yang mirip kuda kudaan, kulit sapi yang di bentuk menyerupai babi,dan yang paling menonjol adalah Barongan yang mirip kepala harimau dan ada juga plok dari kayu waru yang di buat seperti kepala naga.

Sementara itu Ki Cahyo, dengan tangan memegang dula terus menabur dupanya di atas bara api yang di letakan di dalam anglo,mulutnya terus komat Kanit membaca mantera,agar tampilan grupnya di berikan kelancaran oleh Tuhan.

Ki Cahyo di kenal sebagai ketua grup Jathilan di kampungku, Setiap aksinya selalu memiliki tampilan yang terlihat sanggar dan berwibawa, Ki Cahyo paling senang kalau memakai celana komprang warna hitam dengan tali besar berwarna putih,kumisnya yang lebat, dan sorot matanya cukup tajam belum lagi di kepalanya selalu memakai ikat khas Jawa makin menambah wibawa Ki Cahyo.

Kelebihan grup Jathilan Ki Cahyo adalah adanya pemain  kuda kepang perempuan,sehingga tampilan tidak membosankan, dan di puncak aktraksi selalu ada pemain yang kerasukan yang berwatak berbeda-beda.

” Nger,nanti sebelum barongan masuk ke lapangan kamu main dua putaran ya”

” Iya Ki, aku pakai kuda kecil yang tidak ada ekornya saja”

” Kami sama Wahyu,berdiri paling depan,biar serempak,Narti dan Sri di baris kedua di belakang mu,”

Slompret slompret, mario ndadadhi..

Yenyian penuh makna dengan iringan gamelan menjadi suasana makian magis, Wahyu dan Angger terus melenggak lenggok di hadapan penonton,tepuk tangan dan suitan penonton terdengar riuh di halaman rumah pak Jumani.

Barongan kepala harimau muncul dari balik tirai sebelah kiri para penabuh gamelan, Ya kang Ganden yang di kenal memiliki rahang kuat dan lincah saat bersalto mulai keluar, di belakang nya kang Muh yang memakai topeng berbentuk kepala naga mengikuti seperti berusaha mengoda barongan.

Tiba tiba dari arah penonton kang Gimin mengalami kerasukan, dan meminta babi yang te buat dari kulit sapi, dengan gaya mirip babi kang gimin berjoget mengikuti irama tetabuhan para Nayogo.

Air kembang yang di taruh dalam bak hitam, bergejoak keras saat kepala kang Gimin masuk ddi dalam bak dan meminum airnya.

Sorak Sorai penonton makin riuh melihat atraksi para pemain Jathilan, sesaji yang di siapkan pun mulai di lahap, suara lecutan cemeti di tangan kang Mistam terus terdengar menggelegar di lapangan sesekali tubuh para pemain minta di pecuti.

” Kang Ganden kalau kesurupan singa Barong,cukup lama”

” Apalagi yang masuk ke dalam tubuhnya adalah Danyang daerah sini, pasti minta sajen ayam mentah lagi”

” Itu kang jumiran, yang main bujang ganong sudah pasti lama kesurupan nya”

Obrolan penonton,terdengar melihat aksi kang Ganden,saat wajahnya di dekatkan ke asap dupa yang di bakar Ki Cahyo, Mulutnya seperti mencecap sesuatu matanya jalang.

” Nger,jangan lama lama kasihan raga ini tidak kuat nanti”

” Heummm”

Tubuh kang Ganden berjalan menyerupai gerakan harimau, tangannya mencakar tanah,kakinya seperti kaki harimau kepalanya bergerak seirama gamelan yang di tabuh Nayogo.

Sorak Sorai penonton menggema saat kita Cahyo menyadarkan pemainnya yang kesurupan, hanya dengan meniup kepala pemain yang kesurupan,tiba tiba langsung lemas.

Belum lagi saat,Ki Cahyo mengibaskan ikat kepalanya tiba tiba para pemain yang kesurupan seperti melihat arah dimana Ki Cahyo berada padahal mata pemain yang kesurupan banyak yang terpejam.

” Kita main jangan sampai sore, kasihan anak anak yang main sudah pada capek”

” Iya Ki, nanti biar di bisiki kang Bagong penabuh kendang nya”

Atraksi hari itu menjadi cerita penonton, Sebab banyak pemain yang kesurupan bertingkah aneh,  ada yang seperti Babi,ada yang mirip monyet dan ada yang bertingkah seperti macan.

Becek lapangan bekas air kembang, aroma dupa dan minyak wangi memenuhi pelataran rumah kang Jumani, tapi kesan puas dari ruan rumah atas aksi grup Jathilan Mergo Budoyo terbayarkan sudah.

Tiba tiba saja aku mendengar Ki Cahyo jatuh sakit, dari obrolan tetangga bilang Ki Cahyo ketempelan Danyang yang babat alas desa, sudah banyak dukun dan paranormal mendatangi berusaha menyembuhkan tetapi banyak yang gagal.

Dengan laju sepeda motorku, aku melaju di antara Jalanan yang berada di perkebunan sawit dan karet, perjalanan dari kota menuju desaku begitu jauh sebab aku masih terbayang,saat Ki Cahyo m mendatangiku usai sekolah dan meminta untuk belajar njatil.

Penuh kesabaran Ki Cahyo,mengajari gerak cara nari ,dan bagaimana bisa menampilkan tarian yang baik dan penuh filosofi,tak terasa aku sudah berada di depan rumah Ki Cahyo.

Kerumunan warga dan tetangga memenuhi halaman rumah Ki Cahyo,Aku bingung melihat ada bendera warna kuning di depan jalan menuju rumahnya.

Lantunan  Yasin terdengar dari dalam rumah Ki Cahyo yang sederhana , sosok berwibawa terbujur kaku, aku lihat simbah Ngatinah tersedu di samping jenasah Ki Cahyo.

” Pulanglah Ki, kuda kepangmu siap menjemput di depan rumah”

Tanah merah basah,aroma beras kuning  dan bunga ,di jahit benang bercampur daun pandan,menjadi saksi di atas nisanmu.

Sanggar imaji Pamenang 13 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.