Kerajaan Rimau  Balakosa

oleh -344 Dilihat

Dongeng Yanto Bule 

Bertanyalah Baginda raja Rimau Balakosa, Di puncak gunung kerinci,dengan istana yang megah ,Cara memimpin rakyatnya penuh dengan keadilan,sehingga rakyat di Kerajaan Rimau balakosa hidup makmur dan tenteram.

Di pagi yang indah di lereng gunung,terhampar kabut tipis nan sejuk, tempat peraduan raja masih basah sisa embun semalam, Para Patih dan pengawal dengan setiap berjaga di istana.

“‘ Patih Gajahsora , hari ini aku ingin melihat rakyatku di desa desa, aku ingin memastikan kehidupan mereka masih sejahtera atau tidak “

” Titah Baginda raja, Nanti saya akan panggil Dubalang untuk memberitahukan perihal keinginan tuanku raja”

Di meja makan di pendopo kerajaan, terhidang aneka macam makanan, dengan tenang sang raja menyantap makanannya,dengan menghirup hangat teh khas kerajaan.

” Putriku, Prameswari hanghayatri, bersiaplah dengan kudamu ,kita akan turun ke desa melihat rakyat kita”

”baik ayahanda, saya ikut'”

Suara kaki kuda saling berpacu, Raja dan putri mahkota berjalan memacu kudanya bersebalahan,sementara Patih Gajah sora berada di belakang mereka.

Jalan yang membentang di antara lembah,begitu menambah indahnya wilayah kerajaan Balakosa, Warga banyak yang tengah menanam sayuran, dan juga tembakau.

Rumah rumah beratap kan daun, berjajar dengan rapi,pagar halaman tertata rapi dengan pasak bambu di kiri kanan jalan, lumbung padi tertata di tengah tengah pemukiman.

Di ujung ladang terlihat pedati di penuhi muatan penuh dengan hasil panenan para petani di kaki gunung kerinci, Melihat kehadiran sang Raja ,banyak warga berdiri memberi penghormatan kepada raja yang bijaksana.

Tatapan mata warga begitu takjub melihat kegagahan raja,dan paras cantik Putri mahkota kerajaan Rimau balakosa.

” Hendak ke manakah tuanku”

” Wahai rakyat ku, aku hanya ingin melihat dan memastikan bahkan lahan kalian masih di garap,hasil panen kalian masih terjual,dan kalian sehat sehat”

” Duli tuanku, berkat perhatian pada Adipati di sini dan Ki lurah,kami warga sehat dan makmur “

” Satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu wahai rakyat ku, putri mahkota sebentar lagi aku nobatkan dan sebagai hadiah nya tidak ada lagi pajak yang kalian setorkan kepada para Adipati “

Sorak Sorai rakyat Kerajaan Rimau balakosa menyambut pemberitahuan sang Raja, hati mereka sangat riang betapa besar perhatian sang raja kepada kehidupan mereka selama ini.

Bulan purnama terlihat penuh di langit, cahayanya menembus keputren dimana putri mahkota tinggal, sang raja berjalan dengan penuh wibawanya memandang langit penuh cahaya.

” Ini purnama ke tujuh belas, Putriku semakin hari semakin menunjukkan bakatnya pada bela diri,dan seni tata negara” ujar raja.

” Baginda raja, sebaiknya putri kita mulai di ajarkan bagaimana cara menjaga bumi di wilayah kita” kata sang ratu Sada.

” Benar katamu ratu, anak kita harus kita persiapkan untuk menjadi penerus di kerajaan kita,dan wajib kita bekali dengan ilmu pengetahuan, sudah sebaiknya kita serahkan pada begawan Ananjaya untuk mendidiknya “

” Aku sangat setuju ,jika Begawan Ananjaya yang mendidik sebab selain menguasai ilmu menjaga bumi sangat di butuhkan,sebab wilayah kerajaan kita merupakan lahan yang sangat subur untuk pertanian dan rempah rempah”

Kokok ayam jantan, dari balik benteng kerajaan bersahutan menandakan matahari akan mengantikan  waktu malam.

” Ibu,sudah waktunya aku berangkat menuju danau kaca untuk belajar kepada Begawan Ananjaya ibu”

” Berangkatlah anaku, engkau akan di kawal Patih Lalaroga dan prajurit pilihan, belajarlah di sana sampai engkau pintar”

” Putriku, bawalah surat ini dan berikan kepada Begawan Ananjaya “

” Siap Baginda raja”

Sepanjang perjalanan menuju Danau kaca, Perjalanan melewati hutan belantara,panglima Lalaroga bersama dengan para prajurit pilihan terus mendampingi putri mahkota.

Tiba tiba dari balik hutan, ada delapan orang berjubah dengan mengunakan senjata pedang terhunus ,menghadang laju perjalanan putri mahkota.

” Hai kisanak, hendak kemanakah kalian pergi,ini sudah masuk wilayah ku”

‘ siapa engkau Ki sanak,aku baru melihatmu di sini” kata panglima Lalaroga.

” Aku adalah Baruna penguasa hutan larangan, siapapun yang melewati wilayah ku,harus memberikan upeti ha ha ha,jika tidak serahkan saja batang lehermu sebagai upeti ku “

Trang…

Trang…

Suara pedang beradu, panglima Lalaroga dan Baruna berkelahi saling mengeluarkan jurus jurus mautnya, namun dari pertempuran panglima Lalaroga terlihat mulai kelelahan, sementara para prajurit terlihat cemas sambil bersiaga.

” Panglima Lalaroga, jangan di teruskan biarkan aku yang menghadapi Baruna”pekik putri Prameswari.

” Lawan sepadan untuk,kau bocah ingusan”hardik Baruna.

Cetar…

Suara cemeti di pecutkan ke udara,menghasilkan suara yang keras, Mata Baruna begitu beringas melihat anak perempuan berani menantang dirinya,dengan sekuat tenaga dan mengarahkan segala kemampuan untuk bisa meringkus putri Prameswari.

Tapi sang putri Prameswari, begitu lincah dan penuh taktik mampu memancing kemarahan Baruna,sehingga di satu kesempatan cemati Putri Prameswari berhasil melepaskan pedang Baruna hingga tertancap di tanah, debu berterbangan,daun daun pohon hutan rontok berjatuhan.

Dengan membungkuk Baruna memohon ampun agar di beri ampunan,dan tidak di habisi nyawanya.

” Ampun putri, berikan kemurahan mu agar aku tetap hidup, dan aku tidak tau jika engkau adalah putri mahkota dari Baginda raja Rimau balakosa”

” Kini aku ampuni engkau paman, Dan bukalah hutan ini agar menjadi desa dan berlaku baiklah antar sesama “

Perjalan menuju Danau kaca, yang membutuhkan waktu perjalanan panjang,di lewati dengan pertempuran di setiap wilayah di luar kerajaan Rimau balakosa,tetapi putri mahkota Prameswari selalu bisa mengatasinya,,tibalah di satu wilayah yang begitu asro di tepi danau, ada pendopo agung yang di penuhi banyak murid tengah melingkar di tengahnya ada se sosok lelaki tua penuh wibawa.

Wajahnya begitu sejuk, tatapan matanya begitu teduh dan penuh senyuman, suaranya sangat lembut.

” Silahkan masuk putri,inilah pendopo a dimana aku mengajar muridku”

” Terima kasih Begawan Ananjaya, tak salah lagi aku di perintahkan ayahandaku untuk berguru padamu “

” Dua purnama sudah berlalu,dan aku menunggu kehadiranmu di sini”

‘ Begawan ini ada surat dari ayahanda untukmu”

Waktu berlalu begitu cepat, semua pelajaran dari begawan sudah di serap habis oleh putri Prameswari yang pintar , kini waktunya untuk kembali ke kerajaan Rimau balakosa untuk menerapkan ilmu yang di dapatkannya.

Malam itu, Suasana pendopo milik begawan Ananjaya sangat hening,semilir angin danau menyapu begitu dingin, Sinar lampu dari damar bergoyang tertiup angin danau.

” Putri,sudah waktunya engkau kembali ke kerajaan, semua pelajaran sudah engkau kuasai,ilmu yang ku berikan sudah sangatlah cukup jika suatu saat engkau melanjutkan kepemimpinan ayahmu, surat yang di titipkan kepadamu untukku sudah aku baca dan aku ikuti,kini saat nya engkau pulang putri “

” Jika memang sudah waktunya aku harus pulang, maka ijinkan aku untuk kembali begawan “

Di altar kerajaan Rimau balakosa ribuan rakyat tumpah ruah, menanti titah Raja , pada Dubalang sudah memberitahukan jika hari ini akan ada pengumuman penting dari maharaja Baginda Rimau balakosa.

Sorak Sorai rakyat melihat sajian kesenian dari pada abdi dalem kerjaan, Makanan tersaji untuk pesta sang Raja.di gerbang istana pintunya yang kokoh tiba tiba terbuka.

Seluruh mata memandang siapakah gerangan yang datang ke dalam Kerajaan, Tampak Putri mahkota Prameswari begitu anggun duduk di pelana kuda , dengan cemeti di pinggang membuat makin anggun dengan kecantikan yang di milikinya.

Sementara di belakang panglima Lalaroga,berdiri gagah di iringi ole para prajurit kerajaan.

Tiba tiba suara Baginda raja Rimau balakosa terdengar jelas, membuat suasana menjadi hening, di singgasana nya yang agung Baginda raja di temani Ratu Sada,dan para Patih,panglima kerajaan dan para begawan berdiri menyambut Putri mahkota Prameswari.

” Rakyatku, di usiaku yang sudah makin senja, hari ini aku menobatkan Putri mahkota Prameswari menjadi pene us kerjaan Rimau balakosa”

” Hidup raja “

” Hidup Baginda raja “

Suara burung bersahutan, cigak siamang dan ungkap bersahutan, penghuni hutan ikut menyambut penobatan Putri mahkota Prameswari menjadi Raja di kerajaan Rimau Balakosa.

Tetabuhan mendayu hingga akhir malam, bulan seperti malu mengintip di balik awan di kerajaan Rimau Balakosa.

Sanggar imaji Pamenang 22 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.