Dua hari yang lalu salah seorang penulis muda papan atas Indonesia Suhartono, pemilik nama pena Aveus Har. Penulis cerpen “Istri Idaman” yang memenangi lomba penulisan cerpen Kompas 2025.
Dalam sebuah postingannya di Facebook melempar sebuah pertanyaan, “apa yang di miliki penulis hebat, tapi tidak dimiliki penulis biasa-biasa saja? Dan hampir semua sepakat menjawab, “KETEKUNAN “
Yups! sepakat! Ketekunan lah yang membedakan kita(kalaulah pantas disebut penulis) dengan mereka penulis hebat, yang membedakan kita dengan Eka Kurniawan, Dee lestari, Ayu’ Utami dan lainnya.
Ketekunan di sini dibagi menjadi dua; pertama ketekunan dalam belajar dan ketekunan dalam berkarya.
Ketekunan dalam belajar
Sudah bukan rahasia lagi bahwa penulis sekaliber Putu Wijaya, Ahmad Tohari, Pram dan lainnya adalah pembelajar yang tekun. Tentu saja belajar tidak hanya dimaknai belajar formal di ruang-ruang kelas. Kegiatan ini bisa dilakukan kapan saja di mana saja.
Apalagi sekarang semua informasi dan pengetahuan bisa kita peroleh di gadget kesayangan masing-masing. Seharusnya hal tersebut menjadi gerbang kesuksesan kita di bidang merangkai kata dan bidang lain tentunya.
Dan sepertinya untuk yang ini bukanlah sesuatu yang berat atau sulit kita lakukan. Nyaris tiap hari kita membaca artikel seputar tulis menulis yang bertebaran di media sosial. Dan hampir bisa dipastikan kita semua sudah hafal-minimal tahu-teknik untuk melahirkan tulisan yang bagus.
Ketekunan dalam berkarya
Kita pasti sudah mengetahui bahwa Andre Herata dengan tetralogi Laskar pelanginya, Hilman Hariwijaya dengan seri Lupusnya, Habiburrahhman El-Shirazy dengan Ayat-ayat Cintanya dan nama-nama beken lain adalah penulis dengan ketekunan yang luar biasa dalam berkarya.
Ketekunan dalam berkarya itulah yang mengantarkan mereka ke puncak keberhasilan sebagai penulis. Bagaimana dengan kita? Nah! sama, ternyata kita terkendala di ketekunan dalam berkarya.
Persoalan ini membekap siapa saja yang masih menjadikan menulis sebagai pekerjaan sampingan, kegiatan paruh waktu, penulis amatir. Bagaimana mau tekun berkarya jika waktu dan tenaga kita sudah terkuras untuk menyelesaikan pekerjaan pokok kita guru, ASN, pedagang atau pun pekebun.
Yang pekebun seperti aku tentu waktu dan energiku sudah terforsis di kebun. Yang guru seperti sampyan tentu waktu dan tenaganya sudah direnggut paksa oleh kewajiban mendidik di sekolah. Pun demikian dengan profesi yang lain. Artinya lumrah dong kalau kita belum bisa tekun dalam berkarya, begitu??? Ups! nanti dulu, Aveus Har, penulis yang berdomisili di Cilacap itu seorang penjual mie ayam.
Pemenang lomba penulisan cerpen Kompas 2025 itu, kesehariannya juga disibukkan melayani pembeli di warungnya. Sampeyan bisa bayangkan sibuknya seorang penjual mie ayam tho, walaupun dia punya asisten. Tapi tetap saja pekerjaan tersebut menyita waktu, tenaga dan pikirannya. Dengan sederet karya dan prestasi yang sudah diraihnya, Suhartono seakan berkirim pesan kepada kita bahwa apapun profesi yang kita jalani saat ini bukan penghalang untuk melahirkan karya yang berkualitas.
Bukan hambatan untuk menjadi penulis hebat. Kata kuncinya adalah; KEMAUAN.
Menulislah!
Karena diam lebih menyakitkan.
M Syuaib penulis tinggal di Batanghari,Republik NGOTA Senami, 29 Januari 2026





