- Cerpen Mochammad Syu’aib
Pertemuan kami sore itu tanpa rencana, drama apalagi pesta. Pertemuan biasa-biasa saja. Pertemuan dua orang dewasa yang merdeka. Ia datang sebagai Jah yang bukan siapa-siapa. Tidak membawa masa lalu yang membelenggu atau pun masa depan yang minta direncanakan. Ia hadir seperti senja yang diam-diam datang di sela kesibukan. Tidak meminta perhatian. Namun berhasil mencuri perhatianku, dan bodohnya aku menikmatinya.
Kami bertemu di rumah Tuhan. Tempat di mana manusia datang dengan segala keperluan. Ada yang datang untuk beribadah, ada yang datang membawa masalah pun ada yang datang untuk meletakkan rasa lelah.Dan aku datang sebagai orang yang kalah, walau belum menyerah.
Sore itu tiada kata yang tercipta. Kami duduk berjauhan walau saling berhadapan. Beberapa kali aku mencoba membaca kisah melalui sepasang bola matanya, sebelum terhenti ketika ia mengetahuinya. Lalu kami bertukar senyum ala kadarnya. Senyum orang-orang yang lelah, tapi belum mau mengaku kalah. Dan tanpa pernyataan yang diucapkan, kami sepakat untuk saling berbagi kisah. Sementara di luar, gerimis bergelantungan di rusuk langit.
Hari-hari berikutnya ia datang dengan santun di sesela kewajibanku ke kebun yang menyita waktu dan tenaga. Membersamai dengan senyum sebentar lalu permisi tanpa meninggalkan debar. Juga di sore yang kelelahan dengan percakapan singkat yang sederhana dan tidak penting, sedang apa, di mana, sama siapa. Percakapan purba yang tidak penting. Namun, anehnya percakapan tidak penting itu yang terkadang bertahan paling lama sebagai jalan kenang.
Sedikit demi sedikit kami mulai saling berbagi hal-hal kecil yang ingin dikenal. Tentang makanan kesukaan, kebiasaan dan banyak hal remeh temeh lainnya. Sering kali ia terdiam lama sebelum menjawab, jemarinya berusaha merangkai kehangatan yang mulai dingin, seolah ada perasaan jujur yang membutuhkan keberanian untuk diungkapkan.
Ia tidak pernah ingin tahu berlebihan tentangku. Tidak pernah bertanya siapa saja yang pernah singgah di hatiku. Atau mengapa kok belum juga menikah.Dan aku suka itu. Karena akan menyelamatkanku dari penghakiman yang menyebalkan.
Waktu juga yang menjadi saksi ketika kedatangannya melalui pesan-pesan singkat mulai kunanti. Bercandanya mulai kusuka. Kalimat-kalimat pendek seperlunya.
Dan, tanpa ijinnya, aku telah menyiapkan ruang untuknya. Ruang yang seharusnya tidak kuberikan untuk orang yang hanya datang saat luang dengan bimbang.Ruang yang sudah sekian lama kubiarkan kosong tak berpenghuni.
“Kalau kita terlambat di sini,” katanya perlahan sore itu di samping langgar, “nanti kita lupa caranya pergi.”
Aku tidak menjawab sepatahkata pun. Karena kebenaran tidak membutuhkan bantahan, tapi penerimaan.
Sampai akhirnya di langgar yang sama, ia berkata dengan ketenangan yang sempurna untuk sesuatu yang tidak pernah kuduga.
” Kita berhenti sampai di sini, ya.”
“Maaf dan terima kasih untuk segalanya.”
Tanpa penjelasan panjang. Pun tidak ada janji akan kembali datang. Aku diam. Menggeleng tidak mengangguk pun tidak.
Ia pergi dengan cara yang sama seperti ia datang. Tanpa drama, tanpa pamit berlebihan. Langkahnya menjauh, lalu hilang di balik pintu resah.
Aku ditinggal dengan sisa-sisa resah dalam benak.
Dari kepergiannya, aku belajar bahwa ada orang-orang yang kehadirannya bukan untuk dimiliki, melainkan untuk mengingatkan bahwa kita masih mampu untuk patah hati. Masih bisa jatuh. Dan harus bangkit kembali walau sendiri.
Jika suatu hari aku bertemu kembali dengannya, aku akan tersenyum. Untuk menghormati apa yang pernah berlabuh di dada.
Jah
(tentang rindu yang terperam)
Jah
Butuh waktuku
untuk memahami mu
Tentang rindu
yang diperam bisu
Jah
Butuh hatimu
Untuk menenangkan ku
Tentang kita
Waktu yang akan bicara
Jah
…
Tanpa terasa beberapa bulir bening memaksa keluar dari mataku saat aku selesai membaca puisiku berjudul JAH. Kututup buku antologi puisiku dengan perlahan, seperti aku keluar dari balik lipatan kenangan tentang Jah.
Dan bergegas berangkat sholat Jum’at.
Republik NGOTA Senami, 06 Februari 2026.





