Nestapa Pilu Melati,Dua Tahun Jadi Korban Cabul Pamannya Sendiri 

oleh -12 Dilihat
Wajah sedih terpancar jelas di wajah Melati,korban pencabulan pamannya sendiri, raut bocah malang itu sangat kentara, nasib getirnya membawanya belajar kuat bertahan di bawah ancaman pelaku, berikut liputannya.
Gadis kecil dengan seragam  merah putih, baju dan roknya terlihat lusuh, tapi dasinya kelihatan sudah longgar, jilbab yang di kenakan juga kusut, sementara di wajahnya sangat kelihatan begitu lelah dan trauma akibat menerima pelecehan,yang di lakukan pamannya sendiri selama dua tahun lamanya.
Sosoknya kurus, nada bicaranya juga kadang terdengar jelas saat di ajak ngobrol,tetapi tubuh tak berdaya seperti menjelaskan betapa pahitnya peristiwa yang di alami korban,sebut saja Melati selama ini.
Sebelumnya Melati hidup normal seperti anak anak lainya di usianya yang masih kecil,Melati menjadi korban perceraian orang tuanya,saat itu Melati masih sangat belia,kedua orang tuanya berpisah dan tidak ada yang mengurusi, Meskipun melati memiliki dua saudara kandung namun karena terpisah jauh sehingga Melati di asuh kakek dan neneknya.
Kakek dan neneknya yang mengasuh,lalu membawanya sampai ke desa bukit beringin kecamatan Bangko Barat tepatnya di dusun karang rejo , Saat itu kehidupan keluarga pamannya yang memiliki tiga orang anak,kelihatan cukup mapan untuk ukuran orang desa, kakeknya mempercayai menitipkan Melati kepada keluarga pelaku.
” Dulunya aku di asuh kakek dan nenek di bawa dari pulau Jawa ke desa ini,dan hidup bersama keluarga bibik  dan paman,hingga bersekolah ” ungkap Melati.
Tahun berjalan,waktu berlalu hingga akhirnya Melati tinggal bersama keluarga pelaku, Prilaku pelaku masih biasa saja dan tidak menonjolkan prilaku yang aneh di depan Melati.
Saat Melati beranjak kelas empat SD, mulai menunjukkan prilaku yang berbeda, Dari pandangan dan memperlakukan Melati jauh dari hal wajar, Sebab pelaku sering memeluk seperti bukan memeluk ponakan sendiri, dan satu waktu saat Melati di minta membuat kopi di dapur rumahnya,Pelaku tiba tiba datang dan memeluk Melati dari belakang, tangannya jahil menggerayangi bagian depan tubuh melati dan meraba bagian sensitif Melati.
“Seingatku, pertama kejadian waktu aku masih kelas empat SD,di dapur rumah bibik saat di suruh membuat kopi” Ujarnya lirih.
Pelaku bukan sekali melakukan pelecehan, Tetapi terlalu sering hingga melati tak mampu mengingat setiap peristiwa yang di alami, Sebab selalu di ancam agar tidak menceritakan kepada orang lain,jika menceritakan Melati di ancam akan di perkosa, Sikap diam menjadi pilihan Melati demi keselamatan nya dan masa depannya.
” Setiap habis di datangi pelaku,aku di suruh tutup mulut dan tidak boleh menceritakan kepada bibik,apalagi orang lain, sebab pelaku selalu mengancam ku”ucapnya.
Tapi lacur, sikap diam Melati ternyata di artikan lain oleh pelaku dengan melakukan pelecehan di setiap ada kesempatan, hingga puncaknya Melati nyaris di perkosa pelaku di kebun sawit.
Dinding kesabaran Melati mulai roboh, Mau menceritakan kepada Bibiknya takut ancaman pelaku, hingga pilihannya jatuh untuk menceritakan yang di alaminya kepada dua sahabat nya satu kelas.
Sambil menahan pilu,Melati menceritakan kepada sahabat karibnya,hingga warga mulai mendengar sayup sayup kabar memilukan itu, Dan akhirnya sebagian warga dusun melaporkan ke kepala wilayah dusun Karang Rejo.
” Rasa takut yang ku pendam selama ini tak bisa lagi aku bendung, dan keberanian muncul untuk bercerita kepada dua kawan karibku,” katanya lagi.
Dari sanalah fakta terungkap, Melati kemudian di ajak kerumah kepala wilayah dusun ,Yang kebetulan juga istri nya se orang bidan  desa di karang Rejo, Kelembutan dan pendekatan yang ke ibuan,Bidan Desa Fitriasih berhasil mengorek cerita pahit yang di alami Melati.
Sosok bidan yang ramah ini,Mulai bisa memberikan kenyamanan terhadap Melati,Sehingga semua kejadian yang di alami Melati terbongkar secara detail.
” Begitu mendengar kabar dari warga,saya minta suaminya saya untuk bisa membujuk korban,dari pendekatan dan tak mudah untuk menggali cerita dari korban,sebab saya lihat korban terguncang akibat peristiwa traumatis yang di alami selama ini” ungkap Bidan Fitriasih.
Melati, awalnya Anak  yang ceria hidup dengan keluarga pelaku,tak ada keceriaan yang terlewati bersama keluarga pelaku,bahkan bermain bersama temen sebaya menjadi hari hari indah, bermain dan bersekolah.
Tapi hari durjana itu datang, Dan tiba tiba merenggut semua keceriaan Melati, pelaku yang selama ini di anggap sebagai orang tuanya,malah menjadi monster yang meneror setiap waktunya.
” Saya juga seorang ibu ,tentu saja merasa tidak bisa menerima atas peristiwa yang di alami korban,apalagi dia begitu detail menceritakan semua yang di alaminya, berawalan dari permintaan agar korban  membuat kopi untuk keluarga, korban yang masih  kecil yang penurut kemudian membuatkan kopi, tapi pelaku tiba tiba pelaku datang dan memeluk Melati dari belakang,Dan langsung menggerayangi tubuh Melati,Di situlah saya melihat bahwa keluarga yang mestinya bisa menjaga korban,ini malah terbalik menjadi pelaku utama,sangat miris dan membuat saya dan keluarga di sini iba  ” ujarnya lagi.
Bukan sebatas itu saja, Melati harus menerima nasib pilu dengan terus terusan menerima perlakuan pelaku yang sama dari pelaku.
Hingga satu malam, pelaku mendatangi kamar Melati dengan mengendap endap,pelaku membuka pintu kamar Melati dan mendekati Melati, lalu membuka pakaian bawah melati yang tertidur pulas dan mulai menciumi kelamin Melati,hingga puas,setelah itu pelaku keluar kamar.
” Yang bikin hati ini terkoyak ,mendengar secara utuh dari korban, betapa buasnya pelaku memperlakukan korban tanpa rasa iba, saya kemudian meminta suami untuk bertindak sebagai aparat desa di dusun karang Rejo” ucapnya.
Perlakuan itu malah di ungkapkan langsung oleh pelaku, Saat Melati di ajak mencari berondol  Sawit dan nyaris di perkosa pelaku, Cerita itu di rekam jelas oleh Bidan Fitriasih  bahkan saat Melati tidur sempat di datangi pelaku dan mengancam akan membunuhnya jika dirinya masuk penjara ,dalam dekapan Bu bidan ,badan kurus Melati tersedu menahan nestapa yang selama ini di pendam.
” Untuk menjadikan bukti, perbincangan saya dan korban di rekam, apalagi korban masih anak anak, dan harus mendapatkan keadilan” tegasnya.
Kepala wilayah yang mendengar pengakuan Melati,  begitu terenyuh melihat nasib yang di alaminya, pelan tapi pasti kawil memanggil keluarga pelaku,dan menyampaikan peristiwa yang dialami Melati, Hingga pada satu keputusan sebagai aparatur pemerintah desa Kawil wajib membela warga nya yang terkena musibah, dengan segenap keberanian melaporkan ke polres Merangin.
” Banyak yang saya pertimbangkan, korban yang masih anak anak harus mendapatkan keadilan, sementara pelaku warga saya dan juga menjabat sebagai RT,tentu saya bimbang tetapi saya tekadkan dan mendiskusikan dengan keluarga pelaku,hingga saya putuskan membuat laporan polisi” kepala dusun karang Rejo ,Ardy .
Untuk membuat situasi tidak heboh, korban yang saat itu masih belajar di kelas,di jemput  bidan ,Dan di antar untuk di jemput kepala desa bukit beringin ,untuk di lakukan visum ke RSUD kolonel abun jani, dengan di dampingi polwan polres Merangin dan juga di dampingi aliansi perempuan Merangin,serta petugas dari UPTD PPA dinsos Merangin, dan pengacara Andri dan Robi ,Melati pun menjalani pemeriksaan oleh penyidik PPA.
Polres Merangin bergerak cepat,tak kurang dari 24 jam, pelaku langsung di amankan untuk di jebloskan kedalam sel tahanan polres merangin,guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.
” Perbuatan pelaku sangat biadab, korban yang harusnya di lindungi,malah di jadikan korban , sesuai dengan UU perlindungan anak dan barang bukti yang ada,dari keterangan saksi saki,naka kami lakukan gelar perkara dan langsung mengamankan pelaku ke polres Merangin” tegas Kasatreskrim polres Merangin AKP Evi .
Penulis Bule

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.