Tupai Sombong Dan Anak Gajah Yang Penurut

oleh -12 Dilihat
oleh

Dongeng Anak Yanto Bule

Di hutan yang masih terjaga,berdirilah satu kerajaan hewan yang di pimpin oleh seekor  beruang madu yang besar dan gagah, Raja beruang  yang memiliki garis kuning di dadanya di kenal sebagai pemimpin yang sangat Arif dan bijaksana sehingga rakyatnya di dalam hutan rimba, hidupnya saling berdampingan satu sama lainnya tanpa ada keributan.

Suatu hari, Tupai yang pintar berlari di antara pepohonan,bermain bersama dengan kelompoknya, tubuhnya lincah melompat dari satu dahan ke dahan lain.

Apalagi saat itu tengah musim buah buahan,seperti buang cempedak yang berbau wangi menyengat,penghuni hutan seperti monyet, dan gajah sudah pasti akan mendekat di bawah pohon cempedak.

Sekawan nan tupai asik berkejaran di atas pohon dan ranting, Tak lagi memperdulikan ada anak gajah yang tengah bermain di bawah pohon cempedak sembari memakan buang masak cempedak.

” Hai tupai kecil,jangan terlalu tinggi engkau memanjat dahan itu, ranting yang engkau lompati kelihatan sudah sangat rapuh” kata anak gajah.

” Apa urusanmu anak gajah, aku ini hewan yang pintar melompat dari dahan pohon ke dahan pohon lainya di hutan ini” kata Tupai penuh kesombongan.

” Aku bukan bermaksud menggurui mu tupai, sebab di hutan ini cuma kamulah yang paling mahir melompat ke dahan dahan kecil” ucap gajah lagi.

” Ha ha ha ha…,akulah raja lompat di hutan ini” kata tupai penuh kesombongan.

Anak gajah yang penurut itu, selalu mengingat kata kata induknya,jika mendapatkan makanan ambilah secukupnya,biarkan hewan lain ikut menikmati musim buah buahan di hutan,dan dengarlah saran kawan atau sahabat,sebab sekecil apapun sarannya akan berguna untukmu.

” Anaku sayang, hidup janganlah serakah  dan juga sombong,sebab dua perbuatan itu tidaklah baik” kata induk gajah.

” Iya ibu, aku akan selalu mengingat pesan mu di manapun aku berada” kata anak gajah .

Sore itu, angin bertiup sangat kencang banyak pepohonan yang tumbang, sementara itu di dekat pepohonan cempedak anak gajah kecil itu tengah berlindung di bawah pohon cempedak yang di kenal sangat kuat akar dan pohonnya, angin kencang seperti tidak mengenal waktu saja.

Wusshh…wusshhh….angin meniup apa saja,menerbangkan ranting dan dedaunan di dalam rimba di kerajaan beruang.

Mata kecil gajah melihat tupai yang sombong,tengah melompat di antara deru angin kencang, tubuhnya lincah menerobos daun daun cempedak.

” Wahai tupai, berlindunglah di bawah sini,sebab angin begitu kencang, nanti tubuhmu bisa terbawa angin ” kata anak gajah .

Dengan sombongnya si tupai melompat seperti tak mengenal rasa takut,sambil tertawa  tupai mengolok olok anak gajah yang berlindung di bawah rindang pohon cempedak.

” Hai mahluk besar yang bodoh, untuk apa dirimu berlindung di bawah,padahal ototmu sangat kuat menahan angin” kata tupai.

” Aku hanyalah mahluk lemah, tak akan kuat melawan alam jika alam sudah murka, lebih baik menghindar daripada jadi korban,mari berteduh di sini biar lebih aman” kata anak gajah mencoba mengajak si tupai sombong.

Angin makin kencang,tiba tiba petir menggelegar kencang, anak gajah terkejut dan kuping lebarnya lansung menutup telinganya.

Tiba tiba pohon petai yang berada tak jauh dari pohon cempedak,langsung tumbang dan rantingnya menghantam dahan rambutan hutan,lalu roboh  dan ranting dahannya menghantam tubuh tupai yang tengah asik melompat.

Seketika tubuh tupai malang itu langsung terjatuh ke tanah,tangan tupai tak mampu lagi melompat dan patah,hingga jatuh tak sadarkan diri di dekat kaki anak gajah.

” Tolong…tolong aku,tanganku patah tak bisa menggapai lagi,tolonglah aku gajah” rintihan suara tupai.

Anak gajah yang tengah berlindung di bawah pohon cempedak,perlahan mendengar rintihan suara tupai di bawah tanah, belalainya langsung mengendus bau darah.

” Apakah itu kamu Tupai, kenapa tubuhmu berdarah, apakah kamu terjatuh dari pohon,padahal kamu rajanya hewan yang pintar melompat di pohon pohon” tanya gajah.

” Tolong aku gajah, tubuhku sakit dan tanganku patah,bantulah aku agak aku tetap hidup” suara tangisnya makin terdengar keras.

” Hidup itu jangan sombong dan serakah tupai,kalau sudah begini siapa yang akan menolong mu,kawan kawanmu sudah kabur semuanya,mari aku bantu kamu tupai” kata gajah sambil menarik belalainya merengkuh tubuh kecil tupai.

Semenjak kejadian itu tupai tak lagi sombong,dan mau mendengar saran kawan kawan binatang di hutan, hutan yang asri dan di huni banyak binatang kembali ceria.

Pesan moralnya adalah,hidup itu gak boleh sombong,sekecil apapun saran kawan harus di dengar demi kebaikan kita.

 

Sanggar imaji Pamenang 11 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.