Wajah Tertekan Jaksa Lihat Gelagat Berbeda Dari Korban Cabul Ketua RT

 

Merangin,Informasikita.com – Sikap berbeda terlihat dari TA korban cabul ketua RT,prilaku berbeda nampak saat korban yang ikut pada saat tahap dua di kejaksaan Negeri Merangin.
Pada sebelumnya korban begitu lancar bercerita, peristiwa yang di alaminya,bahkan pendamping yang datang dari  UPTD PPA dinas sosial saat mendampingi korban,merasakan betapa traumatik nya korban atas peristiwa yang di alami korban sejak dua tahun lamanya.
Namun berbeda saat korban ikut ke kejaksaan, untuk pelimpahan berkas kasus yang menimpannya,Korban seperti tertekan,dan terlihat ada dua wanita yang ikut mendampingi satunya adalah bibi korban atau istri pelaku, sementara wanita satu lagi merupakan orang lain ,yang tak memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak korban dan pelaku sendiri.
Dari informasi yang beredar bahwa korban , Saat ini tidak tinggal bersama dengan keluarganya namun tinggal bersama dengan orang lain.
Perubahan sikap tersebut malah menimbulkan kecurigaan pihak Kejaksaan.
” Agak berbeda saja dari gestur korban seperti Tertekan,dan jawabannya juga sepertinya sudah ada yang ngajari, kami jadi curiga ada apa di balik perubahan sikap korban” ungkap Kasi Pidum Kejari Merangin,Hakim.(21/7).
Hak korban harusnya di lindungi,apalagi saat kejadian korban ikut dengan keluarga pelaku,sehingga posisi korban sangat rentan terhadap intimidasi,dan juga propokasi pihak lain yang punya kepentingan dalam kasus ini.
” Kalau saya baca di media media,korban ini ikut keluarga pelaku dan sudah di amankan oleh kades bukit Beringin,sehingga korban jauh lebih aman berada dengan kades, ini tiba tiba saya dapat informasi korban ikut dengan orang lain yang tidak ada hubungannya baik dengan korban maupun keluarga pelaku,ini kan jadi aneh” Ujarnya.
Seperti yang di beritakan sebelumnya,kasus pencabulan yang di lakukan oleh ketua RT,Terjadi pada 06 April lalu,Dimana yang melaporkan kejadian yang menimpa korban adalah Novi kepala dusun karang Rejo desa bukit beringin kecamatan Bangko Barat.
Fakta yang di dapatkan media ini pada 15 April 2026 terlihat jelas,Gadis kecil dengan seragam  merah putih, baju dan roknya terlihat lusuh, tapi dasinya kelihatan sudah longgar, jilbab yang di kenakan juga kusut, sementara di wajahnya sangat kelihatan begitu lelah dan trauma akibat menerima pelecehan,yang di lakukan pamannya sendiri selama dua tahun lamanya.
Sosoknya kurus, nada bicaranya juga kadang terdengar jelas saat di ajak ngobrol,tetapi tubuh tak berdaya seperti menjelaskan betapa pahitnya peristiwa yang di alami korban,sebut saja Melati selama ini.
Sebelumnya korban  hidup normal seperti anak anak lainya di usianya yang masih kecil, menjadi korban perceraian orang tuanya,saat itu  masih sangat belia,kedua orang tuanya berpisah dan tidak ada yang mengurusi, Meskipun melati memiliki dua saudara kandung namun karena terpisah jauh sehingga korban di asuh kakek dan neneknya.
Kakek dan neneknya yang mengasuh,lalu membawanya sampai ke desa bukit beringin kecamatan Bangko Barat tepatnya di dusun karang rejo , Saat itu kehidupan keluarga pamannya yang memiliki tiga orang anak,kelihatan cukup mapan untuk ukuran orang desa, kakeknya mempercayai menitipkan korban kepada keluarga pelaku.
” Dulunya aku di asuh kakek dan nenek di bawa dari pulau Jawa ke desa ini,dan hidup bersama keluarga bibik  dan paman,hingga bersekolah ” ungkap korban.
Tahun berjalan,waktu berlalu hingga akhirnya korban tinggal bersama keluarga pelaku, Prilaku pelaku masih biasa saja dan tidak menonjolkan prilaku yang aneh di depan korban.
Saat korban beranjak kelas empat SD, mulai menunjukkan prilaku yang berbeda, Dari pandangan dan memperlakukan jauh dari hal wajar, Sebab pelaku sering memeluk seperti bukan memeluk ponakan sendiri, dan satu waktu saat korban di minta membuat kopi di dapur rumahnya,Pelaku tiba tiba datang dan memeluk dari belakang, tangannya jahil menggerayangi bagian depan tubuh melati dan meraba bagian sensitif korban.
“Seingatku, pertama kejadian waktu aku masih kelas empat SD,di dapur rumah bibik saat di suruh membuat kopi” Ujarnya lirih.
Pelaku bukan sekali melakukan pelecehan, Tetapi terlalu sering hingga melati tak mampu mengingat setiap peristiwa yang di alami, Sebab selalu di ancam agar tidak menceritakan kepada orang lain,jika menceritakan korban di ancam akan di perkosa, Sikap diam menjadi pilihan  demi keselamatan nya dan masa depannya.
” Setiap habis di datangi pelaku,aku di suruh tutup mulut dan tidak boleh menceritakan kepada bibik,apalagi orang lain, sebab pelaku selalu mengancam ku”ucapnya.
Tapi lacur, sikap diam korban ternyata di artikan lain oleh pelaku dengan melakukan pelecehan di setiap ada kesempatan, hingga puncaknya korban nyaris di perkosa pelaku di kebun sawit.
Dinding kesabaran korban mulai roboh, Mau menceritakan kepada Bibiknya takut ancaman pelaku, hingga pilihannya jatuh untuk menceritakan yang di alaminya kepada dua sahabat nya yang satu kelas.
Sambil menahan pilu,korban menceritakan kepada sahabat karibnya,hingga warga mulai mendengar sayup sayup kabar memilukan itu, Dan akhirnya sebagian warga dusun melaporkan ke kepala wilayah dusun Karang Rejo.
” Rasa takut yang ku pendam selama ini tak bisa lagi aku bendung, dan keberanian muncul untuk bercerita kepada dua kawan karibku,” katanya lagi.
Hingga akhirnya pelaku bisa di amankan polisi, Dan kini masyarakat.asih menunggu keadilan bagi korban yang masih harus hidup memperjuangkan cita citanya.
Reporter Bule

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *