Bunga Di Tepi Kuburan

Cerpen Yanto Bule

Dug
Dug
Dug
Allahuakbar Allahuakbar
Suara takbir menggema di masjid dusunku, suasana sore begitu syahdu,apalagi menjelang lebaran,dan biasanya warga di kampungku sudah sejak  ba’da ashar sudah mulai sibuk menyiapkan untuk takbiran di masjid.
Bapakku baru saja pulang kerumah, membawa ikan hasil menjala di sungai ketepan, ibu seperti tengah sibuk merebus ketupat di dalam panci di dapur dengan tungku tanah dan kayu bakar.
Ku lihat nenek baru saja selesai membersihkan ayam kampung,yang di pelihara di belakang rumah, pokonya jelang lebaran sudah pasti keluarga kami pasti sibuk,untuk menyiapkan semua pernah pernik masakan ala kampung.
” Nak, cepatlah mandi nanti langsung ke masjid, ikut takbiran kabarnya nanti malam ada takbir keliling,jangan lupa bawa obor bambu yang bapak buat untukmu ya”
” Iya pak, habis kasih umpan kambing nanti saya mandi dan ke masjid”
“Apa pakan kambingmu  sudah di Carikan rumput untuk beberapa hari nak”
” Sudah pak, kemarin dana hari ini aku tari mencari rumput bareng kawan kawan di ladang Mbah Darto”
Suara kambing di kandang berebut pakan, ya kambingku ada lima ekor, sepasang kambing dengan tiga ekor anaknya, setiap hari pulang sekolah pasti aku mencari rumput untuk pakan ternak ku,ya paling tidak bisa jadi tabunganku kelak.
Dulu bapakku membelikan sepasang kambing ,saat aku habis di khitan dan sampai hari ini kambing sudah beranak, jadi tabunganku kelak jika aku meneruskan sekolahku, tak susah lagi bapak mencarikan biaya untuk masuk sekolah dan membeli peralatan baju sekolah ku.
Di lingkungan kampungku, memang banyak yang memelihara ternak seperti sapi dan kambing, apalagi pakannya juga mudah di cari, sepanjang ladang  garapan sudah pasti banyak rumput yang mudah untuk pakan, di sela sela tanaman tahunan warga biasanya menanami tanaman tumpang sari,sehingga rumput menjadi gulma untuk tanaman .
Suara takbir begitu jelas  menggema dari masjid Nurul Huda ,suara takbir yang mengalun dari suara Toa masjid ikut tertiup angin, satu satunya masjid di kampungku yang menjadi sarana peribadatan umat muslim, bukan hanya untuk sholat Ied  dan sholat Jumat saja,tetapi masjidku juga menjadi tempat belajar mengaji setiap harinya.
Apalagi ada ustadz Fauzi yang jebolan pondok pesantren di daerah Jawa yang jadi guru ngajinya, banyak anak anak seusiaku dan di bawah usiaku yang di titipkan untuk belajar ngaji dengannya.
” Anak anak, sehabis isya nanti obor yang kalian bawa di hidupkan,kita akan takbir keliling kampung sambil jalan kaki,” suara lembut ustad Fauzi ,meminta anak anak untuk ikut pakai obor.
Cahaya dari obor yang di bawa anak anak, dengan iringan suara takbiran dan tabuhan bedug menjadi suasana makin ramai dan semarak, meskipun belum ada penerangan lampu listrik di kampung,tetapi hampir di setiap rumah ada lampu petromax yang di nyalakan.
Rumah berdinding papan beratapkan seng,khas rumah transmigrasi berjajar rapi di sepanjang jalan di kampungku, obor dari minyak yang di pasang di setiap rumah menambah semarak suasana takbiran , suasana ramai anak anak takbir keliling dengan membawa alat tetabuhan,membuat suasana malam itu begitu ramai di kampung ku.
Ada pak hanan, pak Jono tetua kampung sudah di masjid takbiran dengan mengunakan toa masjid menjadi satu satunya sound sistem yang di miliki saat itu, sementara anak anak berkumpul sambil memukul bedug,ibu ibu mulai berdatangan dengan membawa makanan sebagai teman ngopi sambil takbiran.
Rasa letih habis takbiran keliling kampung,membuat perutku lapar, aku bergegas pulang untuk makan masakan ibu dan nenekku sore tadi.
Malam itu bapak memanggilku, aku menghampirinya  di beranda rumahku, beranda rumah yang di buat bapak dari bambu dan ada meja kayu untuk menaruh kopi kesukaan ayah, dan ibu hampir setiap hari selalu menyuguhkan makanan ringan untuk bapakku.
” Nak, besok pagi lebaran , kayaknya ibumu sudah membelikan pakaian untuk lebaran besok, kemarin bapak lihat ibuk pulang dari pasar pekan di desa kita”
” Iya pak ,terima kasih ya, kak Siti gimana , di belikan baju juga kan”
” Kakakmu juga sudah di belikan baju ,biar besok kamu bisa jalan bersama silaturahmi dengan tetangga dan kawan kawanmu ya nak”
Mendengar di belikan baju baru, hatiku betapa riangnya, aku berlalu dari hadapan bapak dan beranjak tidur, mataku tak mau terpejam dan ingin hari cepat pagi, apalagi bapak sudah memberitahu jika ibu sudah membeli baju lebaran untukku dan Kakaku.
Sehabis subuh aku segera mandi di belakang rumah kami, ya tempat mandi yang buat bapak dekat sawah jatah transmigrasi,sumber mata airnya sangat deras sehingga cekungan air tak tertampung, dan tempat mandi yang bapak buat di jadikan pemandian umum,sebab selain airnya jernih tempatnya juga sangat bersih,tutup tempat pemandian di buatkan bapak dari anyaman bambu,sehingga bisa untuk mandi dengan nyaman.
Dingin air yang melintasi pori pori kulitku,tak kurasakan lagi ,di pikiranku hanya lekas selesai mandi dan aku segera memakai baju baru untuk sholat id ke masjid di kampung ku.
Ibu terlihat keluar membawa baju baru, lengan panjang corak kotak kotak,dan celana hitam dan sepasang sandal baru.
” Ini nanti di pakai untuk lebaran ya nak, biar kamu tidak malu berjalan bersama kawan kawanmu , bersilaturahmi ke tetangga dan gurumu”
Dengan tatapan senang,aku hampiri ibuku dan langsung ku peluk ibuku penuh kasih, betapa hebatnya ibuku yang sudah merawat ku dan keluarga kami.
” Terima kasih ibu,”
Pulang sholat,ibu mengajak kami sarapan bersama ,ibu sudah menyiapkan ketupat dan sayur opor ayam kampung peliharaan ayah, bagi kami makan ayam  kampung merupakan hal yang sangat di tunggu,sebab untuk memasak ayam kampung harus nunggu ada kenduri di rumah atau pas lebaran, maklum keluarga baru di transmigrasi.
” Kita ke makam kakekmu, ziarahi mereka doakan di atas makamnya jangan lupakan mereka yang pernah mengasuh mu dan kakakmu nak’
Nisan kayu bertuliskan nama kakek, berjajar di pemakaman umum desaku, warga desaku memiliki kebiasaan sebelum lebaran dan sesudah sholat Ied pasti melakukan takziah bersama, lokasi pemakaman menjadi sangat harum dengan bunga dan aroma pandan yang di tabur di atas kuburan.
Aku melihat nenekku begitu khusuk membaca doa di dekat nisan kakek, aku mendekati bapak dan ibu, sambil membaca doa, sementara kak Siti membuka plastik berisi bunga ,dan air di dalam teko plastik untuk di tebarkan dan menyiram makan kakek ku.
Air mataku tiba tiba mengalir hangat, memori semua yang pernah aku lalui bersama keluargaku dulu,kini tinggal kenangan.
Di depanku berjajar empat nisan, bertuliskan nama kakek,nenek,ibu dan ayahku,yang sudah tujuh tahun meninggalkanku dan kakakku.
Ini tahun ke delapan, aku mengunjungi nisan keluargaku, betapa berat aku menghadapi rasa rindu pada mereka, plastik bunga ber ampir daun pandan,dan teko air di buka Kakaku,untuk menyiram nisan keluargaku.
” Dik, ayo kita pulang kerumah bapak, kita rayakan lebaran di sana,agar kesepian hari kita terobati,”
Ku tabur bunga di tepi kuburan bapak dan ibuku, doaku melangit meminta ampunan untuk mereka.
Lunglai langkahku, masuk ke dalam kamar bapakku, meskipun terlihat bersih tapi tidak ada yang tidur di sana, airmata ku tumpah memeluk bantal guling milik ibuku penuh rindu.
” Bapak,ibu aku merindumu sepenuh harap ku”
Suara takbir di masjid Nurul Huda, mengalun merdu, suara ustad Fauzi masih setia bertakbir hingga pagi.
Pamenang 16 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *