Letnan Kodok

Cerita Anak Yanto Bule

Blung,teot,teot,teblung
Suara katak bersahutan di sawah,yang habis di bajak kerbau beberapa hari lalu, lumpur nya dangkal, pematang sawahnya juga baru belum kering.
Sementara tak jauh dari petak petak sawah, terlihat bibit padi jenis varietas Sangiang Sri, menghijau siap untuk di tanam ke sawah.
Malam itu, ibuku tengah mengandung adiku nomor dua, perutnya mulai kelihatan membesar, sebab sudah masuk bulan ke lima ibu mengandung.
Rumah yang kami tinggali bersama keluargaku, memang terlihat agak beda, meskipun sama sama berdinding anyaman bambu,tetapi lantainya sudah di semen mengunakan campuran pasir dan kapur batu gunung,yang di beli di toko mang Kardi.
Ayahku jarang tinggal di rumah,sebab ayah bertugas di Koramil sebagai danramil,sehingga wajib untuk stanby di markas,untuk memastikan bahwa Keamanan masyarakat di wilayahnya aman aman saja.
Jarak antara rumahku dan kantor ayah,lumayan jauh, apalagi jalan menuju desaku masih belum di aspal,sebab masih mengunakan batu batu yang di susun ,itupun di bangun saat ada program ABRI masuk desa, pekerjaan jalan di desaku di dukung penuh oleh lurah Sukri, dengan mengerahkan warganya untuk membantu ABRI menyusun batu membuat jalan desa.
Sore itu ayahku pulang dengan mengendarai sepeda motor inventaris kantor, suaranya meraung keras, ayah dengan seragam loreng begitu gagah mengendarai motor dinasnya masuk desa.
Sudah pasti,jika ayahku pulang orang sekampung pasti berlari melihat motor dinas ayah, sebab di kampung ku motor masih sangat langka sekali.
“Itu pak letnan pulang dinas”
” Iya, sudah pasti nanti malam rumah pak letnan pasti ramai,sebab orang orang akan berkumpul untuk mendengarkan informasi dari kota” bisik warga.
Ya, ayahku memang anggota ABRI dengan pangkat letnan satu, dan menjabat sebagai komandan Koramil, dengan perawakan tegap, rambut cepak khas tentara, berkulit putih,hidung mancung dan berkumis,semakin membuat ayah sangat berwibawa sekali.
” Nak, jerangkan air di tungku untuk membuat kopi kesukaan ayahmu” pinta ibu kepadaku.
” Iya Bu, air dari sumur yang ku timba yang ku masak ya Bu” kataku.
Terdengar dari dapur ibu,tengah menyiapkan makanan untuk ayah, sembari membuka tudung nasi di meja makan kami.
Sementara ayah, selesai mandi dengan memakai sarung, ayah keluar kamar mendekati meja makan untuk makan,masakan ibu.
Kopi panas di cangkir seng berlurik hijau putih, tersaji di atas piring kecil,dengan perlahan aku sodorkan ke meja makan untuk ayah minum.
” Ini yah, kopi kesukaan ayah”
” Terima kasih anakku Eja, kamu sudah besar sudah bisa bantu jaga ibu, kopi buatanmu pasti enak sekali ” kata ayah.
Senja beranjak malam, usai sholat magrib ibu seperti ngobrol bersama ayah di ruang tamu rumah, dekat jendela rumah dari anyaman bambu, angin Sepoi Sepoi masuk dari celah anyaman bambu di rumah kami.
” Yah, beberapa hari ini ibu pengen makan daging kodok, entah sepertinya ibu nyidam daging kodok yah” punya ibuku.
” Kok aneh aneh saja nyidam mu kali ini nu, apa karena anak kedua,calon adik eja permintaan nya nanti ayah turuti ya” kata ayah.
” Istirahat saja dulu ya,pasti letih sebab perjalanan pulang dari kantor kerumah sangat jauh” jelas ibu.
” Nanti saja Bu, ayah biasa tidur agak malam, sebelum warga pada datang nanti sehabis isya ayah mau cari kodok di sawah” ujar ayah.
Ayah masuk ke dalam dapur,mencari lampu berbahan bakar karbit, sebab lampu jenis ini  cahayanya sangat awet dan tidak mudah mati kena angin.
Aku di ajak ayah ke sawah untuk kut mencari kodok pesanan ibu, dengan lampu di tangan kiri ayah meniti pematang sawah, suara kodok bersahutan di sawah,seperti menyambut kedatangan kami di sawah.
Tangan kecilku,membawa jaring kecil untuk menyimpan hasil buruan ayah,kepadaku ayah minta untuk tetap di pematang sawah tidak boleh turun,biar ayah fokus mencari kodok dengan penerangan cahaya lampu .
Tengah asik ayah mencari kodok di sawah,yang bekas di bajak petani,tiba tiba ada lemparan ke arah ayah.
Kecipak,suara tanah jatuh di sawah bercampur air, tetapi ayah masih santai mencari kodok, ayah kemudian berpindah ke pematang sawah yang alim,dan lagi lagi ada lemparan tanah ke arah ayah.
“Bluk” suara tanah jatuh di pematang sawah,dekat ayah berdiri sambil mencari kodok, tubuh ayah secara refleks berdiri dengan mata menyapu ke seluruh sawah,tak terlihat ada orang di sana ,hanya kegelapan seluas sawah yang habis di bajak.
Tak mempedulikan situasi, ayah melanjutkan berburu kodok, sudah lebih sebelas ekor kodok  besar di dapatkan ayah.
Tiba tiba punggung ayah kena lemparan tanah, secara refleks tangan ayah langsung mencabut pistol yang di selipkan di pinggang ayah,dan meletus ke udara.
” Dor,dor”
Suara letusan pistol terdengar nyaring, tiba tiba di balik pematang sawah dekat daratan, melompat sosok pria dengan berteriak ketakutan.
” Ampun pak letnan,ampun”
Pria itu sambil berlari di pematang sawah, ayah yang melihat kejadian itu lalu memanggil manggil namaku.
” Eja, kami di mana nak,awas ada orang berlari itu”
Aku yang tengah duduk di pematang sawah,terkejut saat melihat sekelebat bayangan di tengah kegelapan, dan melihat bayangan tadi terjerembab ke dalam sawah,dan kakinya tak bisa di angkat.
” Maaf pak letnan, saya tidak tau kalau bapak yang cari kodok” ujar pria itu.
” Wahai, kok sampeyan pak Mijo, lagi apa di sini pak” tanya ayah.
” Ini sawah saya pak letnan, beberapa hari lagi mau saya tanami padi,kalau tidak saya tunggu pasti banyak orang yang berburu belut merusak sawah saya” jawab pak Mijo.
” Olahan, maafkan saya pak, kalau ini sawah pak Mijo,saya berburu kodok karena istri saya lagi ngidam daging kodok” tawa ayah langsung pecah.
Malam itu, menjadi cerita di tengah masyarakat desaku, banyak warga yang tertawa jika mendengar cerita pak Mijo kaget dengar letusan senjata ayah.
Dan sejak itu,nama ayah berubah jika ayah pulang ke desa, warga pasti datang menyambut dan berkumpul di rumahku,dan memangil ayah dengan panggilan letnan kodok.
Adikmu kini sudah berumur lima tahun, tetapi gurauan warga dengan panggilan ayah makin membuat ayah tenar dengan sebutan letnan kodok.
Ibu selalu tertawa,jika mengingat ayah saat berburu kodok di sawah pak Mijo, tetapi kenangan itu terus aku ingat,sebab kini kami hidup hanya bertiga tanpa ayah.
Dua tahun lalu, ayah mendapatkan penugasan ke Medan operasi,tetapi ayah harus gugur di Medan tugas dan di makamkan di sana,baju seragam dan bendera merah putih yang pulang kerumahku.
Baju loreng ayah yang berlubang di bagian dada,terus aku simpan untuk kenangan dan penyemangat ku untuk mengantikan ayah menjaga ibu dan adikku.
” Eja, kamu belum tidur nak ini sudah tengah malam, jangan begadang ,besok kamu harus sekolah nak, ibu mau sholat tahajud dulu”
Tangan ibu membelai kepalaku dengan lembut, aku begitu nyaman dalam pelukan ibuku yang makin menua, dingin angin malam menerpaku untuk mengambil wudhu dan bertadabur kepada sang pencipta.
Pemenang 12 mei 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *