Cerpen Yanto Bule
Deru suara motor berebutan di jalan raya, Jihan berusaha mendahului laju motor di depannya, Gadis beranjak remaja ini begitu lincah mengendarai motor matic miliknya,dengan pakaian berjilbab dan juga helm melaju pulang.
Di rumah mungil di komplek BTN,Jihan tinggal bersama dengan kakak dan dua orang tuanya, Keluarga yang nyaris sempurna.
Alek ayah Jihan bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan kredit motor, sementara ibunya bekerja di instansi pemerintah daerah, sementara itu Devan kakak Jihan kuliah di perguruan tinggi di kotanya.
Keluarga yang harmonis,dan tanpa pertengkaran,hari hari Jihan di liputi rasa kebahagiaan, bukan soal keluarga namun cara orang tua mendidik mereka yang membuat kehidupan mereka sangatlah bahagia.
Malam beranjak , Jihan dan keluarganya berkumpul di ruang makan, Sesekali ayah Jihan berusaha untuk mengoda Jihan si bungsu yang di kenal dekat dengan ayahnya.
” Ayah ,jika nanti adek besar mau kuliah di kampung kakek ya”
” Adek mau ambil jurusan apa”
” Mau ambil kebidanan ya yah, Biar bisa bantu orang dan merawat ayah juga ibu”
” Tapi adek harus janji ya, belajar yang rajin dan terus mendoakan ayah dan ibu”
” Iya ayah”
Raut wajah bahagia Jihan, Seperti anak anak pada umumnya, manja tapi berprestasi di kelasnya.
Tiba tiba telepon selular Jihan menyala,seperti ada panggilan masuk, ternyata Devan ,kakaknya yang belum pulang kuliah menelpon.
” Ada apa kak, kok belum pulang juga”
” Bentar lagi kakak pulang dek, Oya tolong tutupkan jendela kamar kakak ya”
Hari berlalu, Keluarga Jihan selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga,jika waktu hari libur selalu saja ada tempat yang di kunjungi,terkadang rumah nenek di kunjungi untuk sekedar melepas rasa rindu mereka.
” Semoga saja keluargamu di berikan kebahagiaan,hingga akhir ya nak”
” Terima kasih nek, Jihan sangat bahagia memiliki keluarga yang sayang sama Jihan”
” Tahun ini kamu naik kelas tiga SMP , berarti tahun depan kami lulus cucuku”
Kakek dan nenek jihan ,tinggal cukup jauh puluhan kilo meter,untuk bisa sampai kerumah kakek dan nenek jihan.
Kampung kakek dan nenek jihan, begitu asri, pekarangan rumahnya banyak di tumbuhi pohon buah buahan dan tanaman bunga,ada juga kolam ikan di belakang rumah kakek, saat Jihan dan keluarga libur selalu di pancing kan ikan ,untuk di makan bersama.
Keceriaan Jihan tiba tiba pudar, saat bunyi suara hanphone ayah terus berbunyi, Ayah sepertinya lupa membawa HP usai makan siang saat istirahat kantor dan makan di rumah,padahal ayah tak pernah ketinggalan HP miliknya sebab banyak nomor relasi ayahnya.
Tangkapan layar hp ayah begitu jelas,ada pesan masuk dari nomor tak di kenal
” p, lagi dimana “
Bagi Jihan,pesan apapun Tidaklah penting sebab dirinya enggan untuk mengetahui isi percakapan HP milik ayahnya.
Mata Jihan, begitu terbelalak saat membaca ada emoji hati,yang di kirimkan oleh nomor lain yang tidak pernah di kenalnya.
Pikiran Jihan belumlah sampai,jika ternyata ada nomor perempuan lain di hp ayahnya, buru buru Jihan menyimpan Hp milik ayahnya ke atas lemari di dekat meja makan.
Sejak Jihan melihat pesan tak di kenal di nomor ayahnya,perubahan sikap ayahnya akhir akhir ini sangat terlihat,tak lagi sabar tak ada lagi waktu sekedar berbincang ,bahkan ada saja alasan untuk tidak pulang cepat.
” Ayah besok pagi antar ke sekolah, sudah lama ayah tidak mengantar Jihan,ibu terus yang ngantar sekolahku”
Alek diam seribu basa ,Tak menunjukkan ekspresi berarti saat Jihan memintanya untuk mengantar ke sekolah,yang tak begitu jauh dari kantornya bekerja.
” Nanti siang saja ayah jemput , pagi ini ayah ada zoom meeting dengan pimpinan perusahaan”
Dari setiap peristiwa yang di alami Jihan,makin membuat perubahan siap ayahnya tak lagi bisa di kenalin, sebab waktu berkumpul dengan keluarga tak lagi pernah terjadi, sikap ayah kepada ibunya juga berubah total tak se harmornis dulu sebelum ada terbaca emoji hati.
Gundah gulana hati Jihan, melihat ibu sering melamun setelah sholat,sajadah panjang penuh dengan tangisan ibu.
“Ayahku mestinya engkaulah cinta pertamaku, di mana aku merasakan betapa hangatnya pelukanmu yah, lemburnya suaramu saat mendoakan ku,mencandai ku penuh kebahagiaan,tapi kini semua sudah berlalu dan berubah yah”
Bulan berganti,tahun terus berjalan waktu tak terus berputar, warna warni keluargaku ku saksikan,hingga pada satu titik dimana ibu tak lagi sanggup,ribut lagi dengan ayah,hanya dialah pengiat ibu di setiap ibadahnya.
Malam itu, tiba tiba ayah datang dengan wajah kaku seperti menahan amarah yang tak tertumpah,entah sebab apa wajah ayah mendadak sengat menyeramkan, Jihan yang berada di atas meja belajar tak berani menegur ayahnya.
” Sudah tak lagi bisa aku pertahankan pekerjaanku, semuanya jadi temuan kantor, kemana lagi aku harus Menganti semua uang yang ku ambil Bu” suara ayah begitu serak bertanya kepada ibu.
” Sudahlah yah,jika memang tak lagi bisa di pertahankan, semuanya harus ada pertanggungjawaban,kamu sebagai atasan di kantor cabangmu harus bisa menyelesaikan nya yah”
” Semua ini karena wanita brengsek itu, aku sampai lupa dan nyaris melupakan keluarga ini,aku sangat menyesal “
” Sudahlah yah, mungkin semua ini jawaban doa atas hati yang sudah engkau lupakan, Jihan ,Ibu betapa kami saling menguatkan untuk bisa bertahan,dan jawabannya adalah hari ini’
Mendung di kotaku, tak lagi sendu ayah dan ibu berjalan berdua,menyusuri lorong menuju rumah kakek, kerumah begitu bahagia, episode kelam dalam rumah tangganya sudah berlalu, wajah keriput ayah dan guratan tangan ibu menjadi tanda bahwa kebahagiaan tak bisa di sembunyikan.
Jihan begitu anggun, dengan baju toga dia melangkah keluar dari aula yudisium , mendekati ayah dan ibu yang berdiri tegak penuh bangga, dua hati menyatu di mata Jihan penuh harapan.
” Ayah akhirnya aku sanggup menjadi kebanggan mu,ibu doamu membuatku kuat,semoga kita selalu di perhatikan dengan penuh cinta”
Sanggar imaji pamenang selatan 29 juli 2026
