Jernih Sungai Dipojok Tambang Emas

Cerpen Yanto Bule

Jernih Sungai Dipojok Tambang ema
Hamparan luas hutan membentang,bebukitan terlihat lebih hijau ,mata air di sungai merah yang membentang di dusunku mengalir jernih, ikan ikan terlihat berkejaran di air yang jernih.
Suara simpai, siamang ,kuao,rangkong, bersahutan, jika malam berisik suara rusa,lincahnya kancil dan landak menggoyangkan reranting di hutan nan damai.
Sepanjang sungai merah,yang berhulu di sungai rasau,sepanjang hari tak pernah sepi, sebab banyak warga yang mencari butiran emas di dasar sungai yang begitu jernih, Dan orang orang menamai sungai emas.
Keheningan desaku yang permai,tiba tiba berubah saat ada program transmigrasi, Beratus keluarga di datangkan ke desaku, sebagian besar hutan dan bukit hijau di tebangi,untuk di jadikan lahan pemukiman warga transmigrasi.
Hutan sepanjang mata memandang,tiba tiba habis di tebangi dengan suara mesin penebang pohong yang menyalakan nyaring, bukit yang dulunya hijau tiba tiba rata dengan tanah, gundukan tanah dan bebatuan di sapu bersih dengan mengunakan alat doser.
Bangunan berukuran 6×6 meter, dengan dua kamar  beratapkan seng mulai di bangun,jarak antara satu rumah kerumah yang lain berkisar 50 meter, sementara sumber air untuk mencukupi kebutuan hidup warga transmigrasi di buatkan oleh pemerintah di setiap dua rumah satu buah sumur.
Kehidupan yang tadinya begitu damai bersahabat dengan alam, seketika berubah menjadi pemukiman padat, Ya hampir setiap malam lampu minyak dari setiap rumah di nyalakan menyerupai cahaya kunang kunang , asap mengepul dari sisa Tunggul yang di bakar menjadi perapian, suara gelak tawa menimpali malam.
Jauh hingga malam, angin dingin Sepoi Sepoi menyentuh kulitku, selimut yang ku pakai terasa dingin tak mampu memberikan rasa hangat di badanku.
Suara kokok ayam jantan, terdengar bersahutan nun jauh di hutan dekat pemukiman transmigrasi.
Tiba tiba suara ibu, mengagetkanku yang masih tertidur pulas di dipan kayu, dengan alas tikar dan kasur kapuk buatan ibuku.
” Nak bangun hari sudah pagi,lekaslah bersihkan diri, lalu siap siap ke sekolah ya”
” Iya Bu, ini masih pagi dinginnya masih terasa ” ujarku sembari menarik selimut khas rumah sakit yang berwarna putih dan biru tua.
” Tadi malam kamu main kemana, sampai selesai isya baru pulang kerumah nak”
” Main kerumah kawan Bu, kebetulan di rumahnya banyak buah tampoi hasil bapaknya mencari di hutan sebrang desa”
” Rumah pak muji , tukang jual sembako ya nak”
” Betul Bu, Joko nama anaknya itu temen sekelasku Bu”
” Ya sudah, lekaslah mandi,sarapan sudah ibu siapkan untuk bekal kamu kesekolahan, sebab pagi ini ibu tidak ada uang, jadi kamu hanya ibu bekali telur rebus untuk ke sekolah ya nak”
Matahari belumlah merangkak ke peraduannya, Tapi semburat jinganya masih terasa panas, aku dan kawan kawan masih asik mandi di sungai merah, dengan melompat dan terjun dari atas jembatan kayu membuat aku dan kawan kawan lupa waktu, maklum jarak antara desaku dan jembatan merah tidaklah begitu jauh, apalagi banyak bapak bapak yang menghabiskan waktu memancing ikan jenis sepat dan ikan mujair.
” Di, ayo kita pulang, aku numpang sepedamu saja ya” ujar Joko.
” Gak papa ko, asal kamu mau berdiri di belakangku sebab sepedaku tak ada besi boncengan “
Jalanan tanah dan berdebu,kami susuri senja itu, gelak tawa dan saling balap di jalan tanah membuat waktu menjadi begitu singkat untuk sampai kerumah.
” Badanmu masih kotor, celanamu basah ,kamu dari mana di” tanya ayahku.
” Mandi dan bermain di sungai merah yah, tadi sama kawan kawan sambil menyelam di dasar sungai”
” bersihkan badanmu, nanti ayah minta tolong belikan rokok kretek di toko pak muji, sudah dari siang ayah tidak merokok”
Ya, Banyaknya warga transmigrasi yang berdatangan dari pulau Jawa,menambah ramai desaku, pasar desa yang ramai tiap satu pekan ,membuat warga banyak yang datang ke pasar untuk membeli kebutuhan pokok ,aktivitas pasar jadi ramai setiap hari Selasa, dan warga banyak menyebut pasar menjadi balai Selasa.
belum lagi kantor desa jadi makin banyak di datangi warga untuk memberikan data mereka kepada pemerintah desaku, sibuk bekerja menyiapkan masa depan bagi keluarga menjadi tujuan utama warga desaku.
Lahan pekarangan di tanami sayuran dan buah buahan, sementara ladang di tanami padi dan jagung,sebagai tanaman pokok,sebab Setok bahan makanan seperti beras menjadi kebutuhan dasar, apalagi jatah hidup dari pemerintah hanya sampai dua tahun saja,sehingga warga harus bisa mandiri pangan.
Kehadiran transmigrasi di desaku,merubah cepat keramaian lingkungan, kedatangan para transmigran di awasi langsung oleh KUPT dari kantor transmigrasi, fungsi kantor desa bukan hanya menjadi kantor administrasi saja tetapi menjadi salah satu gudang,untuk menyimpan sembako jatah hidup (jadup) warga transmigrasi di desaku.
Mereka datang dari berbagai daerah di pulau Jawa, dengan beragam pekerjaan , namun seiring waktu warga transmigrasi yang mendiami lahan di desaku,berangsur beralih menjadi petani palawija, apalagi setiap kepala keluarga mendapatkan jatah lahan seluas 3,5 hektare,dua hektar untuk perkebunan tahunan ,satu hektar untuk lahan palawija dan setengah hektar nya di jadikan lokasi perumahan.
Tapi yang menjadikan para transmigran bisa beradaptasi,karena rata rata yang tinggal di dalam satu rukun tetangga ada yang masih satu daerah, sehingga cara bergotong royong masih terjaga, apalgi soal keamanan di desa, banyak juga para transmigran adalah pensiunan dari ABRI,maka linmas langsung terbentuk di setiap dusun dengan satu komandan pleton.
” Assalamualaikum pak didik, besok pagi kita gotong royong menanam padi di ladang pak said, kebetulan ladangnya sudah di bersihkan dan di bakar kayu kayunya,jadi sudah bisa di tanami padi jenis Gogo bibit dari pemerintah” ucap pak Somad kepada ayahku.
” Insyaallah besok saya datang pak, kebetulan kayu tojok untuk menanam padi sudah saya siapkan” kata ayah.
” Terima kasih pak, besok pagi kita bareng bareng sarapan di ladang,gak usah bawa bekal ya pak”
Di desaku semenjak ada warga transmigran yang datang,menjadi makin ramai,gotong royong satu sama lain makin merekatkan antar warga,bahkan tradisi dari pulau Jawa ikut di lestarikan,seperti menanam padi di ladang, mereka menanam padi satu hamparan ladang.
Pada  setiap masa tanam pasti di lakukan dengan bergotong royong,sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat, begitu juga dengan saat menjelang musim panen tiba,ada tradisi menjaga ladang dari hama babi, dengan cara memagari ladang dengan tali di di ikatkan kain kain kecil yang di olesi minyak rambut, katanya untuk mengusir’ agar babi tidak mau masuk ladang karena para wangi dari minyak rambut.
Belum lagi, suara bedil bambu yang di hidupkan dari karbit,menghasilkan suara yang terdengar keras,sehingga babi tidak mau mendekat karena di kira suara senjata api, dan yang sering di pasang di tengah ladang adalah kaleng bekas roti susu di pasang dengan di buatkan tali panjang untuk di tarik,sehingga menghasilkan suara yang berisik.
” Panen tahun ini sepertinya meningkat,sebab hama babi tidak banyak menyerang tanaman padi kita”
Asiknya menjelang panen, menjadi kesenangan tersendiri, apalagi ayahku kadang ikut berjaga di ladang, dengan modal senter berbahan penerangan batu batre, membuat suasana makin seru, kaleng bekas kapur di gantung di pinggir gubuk,saat tertentu pasti di pukul dan menimbulkan suara nyaring untuk mengusir babi.
Dan bagiku,hiburan satu satunya di tengah ladang adalah suara radio ban, yang di bawa ayahku untuk sekedar mendengarkan berita sebagai informasi dari pemerintah, terkadang suara lagu daerah dan juga siaran untuk mendengar pengumuman nomor SDSB menjadi hal yang di nantikan ayah.
” Belum beruntung ya nak, kemarin sore ayah beli nomor di rumah pak Slamet ternyata meleset,dan kita tidak dapat rejeki” kata ayah sambil tertawa lepas.
Tak terasa, waktu berlalu di saat pak kades mengumumkan jika bulan depan ada, selamatan untuk pemberian nama desaku di kantor balai desa, seluruh warga di minta hadir dengan membawa jajanan,yang akan di nikmati bersama sama.
Hari itu ayahku, membawa dulang sekedar untuk mencari buliran emas di sungai merah, dengan peralatan cangkul,ember dan batok kelapa di bawa dari rumah, ada satu cekungan air di sungai rasau yang tenang, kumpulan pasir batunya sangatlah banyak.
Perlahan ayah mulai mengumpulkan batu dan pasir di atas dulang, perlahan di bersihkan menyisakan pasir hitam, tapi begitu terkejutnya ayah saat melihat banyaknya butiran emas di atas dulangnya, dengan riang ayah mendulang sampai senja,hasilnya pasti bisa di jual di warung pak muji,untuk belanja ibu.
Ternyata hasil mendulang emas yang di lakukan ayah,di ketahui banyak warga,dengan cepat mereka berlomba membuat dulang dari akar papan, dari semenjak itu aktifitas warga desaku sembari bertani menunggu hasil panen warga banyak mendulang di sepanjang sungai merah dan sungai rasau.
” Genap satu tahun,desa ini berdiri dan ternyata bukan hanya tanah nya yang subur,tetapi kekayaan alamnya melimpah, sungai di desa kita mengandung banyak emasnya,Dan para tetua desa sepakat memberikan nama untuk desa ini Tambang Emas” ujar pak kades di balai desa.
Alunan doa yang di bawah akan kyai, Takat mengalun merdu,warga menengadah kan tangan dan meng mainkan doa doanya, cahaya lampu petromax yang di gantung di balai desa sudah di matikan, ayah mengajaku pulang kerumah dengan sejuta harapan.
Sanggar imaji pamenang selatan 16 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *