Cerpen Yanto bule
Rintik hujan sisa semalam masih membekas di ujung jendela kamarku, entah kesekian kalinya aku mengusap air mata yang tiba tiba menetes tanpa ku sadari.
Beringsut aku dari ranjang kamar tidur,
Ku pandang dua buah hatiku yang masih tertidur nyenyak, betapa tak berdosanya mereka jika aku dan suamiku berpisah,dan memisahkan mereka dari rengkuhan kasih saya orang tuanya.
Ku geser tubuh si kecil agak ke tengah kasur, selimut dan bantal aku benahi agar tidur mereka lebih nyenyak lagi, kain kelambu kamar aku tutup rapat dan ku pasang peniti agar tidak ada rongga untuk nyamuk masuk kelambu dan mengigit kulit lembut anaku.
Nafasku sesak,jika mengingat betapa kejamnya suamiku yang berkhianat di luar sana, ketulusan dan kepercayaan ku sudah di hancurkan begitu saja tanpa memikirkan hatiku yang menunggu di rumah dengan setia.
Tapi apalah dayaku ,hidup berumah tangga dengannya merupakan pilihan hidupku, semua resiko sudah aku ambil matang matang,semua persoalan keluarga tidak akan aku ceritakan kepada siapapun,meskipun itu harus cerita kepada orang tuaku sendiri.
Ya,aku adalah Rita anak perempuan sulung dari tiga bersaudara, awalnya kehidupan lajang yang aku jalani begitu sempurna, kasih sayang orang tuaku jauh melebihi curah hujan yang turun, semua keinginan dan cita citaku hampir terpenuhi semuanya.
Hingga di satu senja aku mengenal sosok lelaki yang aku lihat begitu baik,perhatian dan penuh kasih sayang, satu tahun aku mengenal Lelaki itu sebagai Edo pria yang baik di mataku dan keluargaku,begitu sopan dan lembut memperlakukan aku, hingga aku di kenalkan kepada keluarganya,dan saat menyampaikan niat untuk serius mempersunting diriku,keluargaku pun langsung setuju,sebab di mata keluargaku lelaki itu pantas untuk mendampinginya hidupku.
” Kemarin ,hari ini hingga esok hari,aku akan mencintaimu sepenuh hatiku,maukah engkau menemani hidupku hingga ujung usia” kata suamiku lembut.
Di hari bahagiaku,banyak kerabat,sahabat hingga taulan yang hadir mendoakan di hari bahagiaku, saat itu aku seperti di sanjung dan menjadi ratu di awal kehidupan ku , dari lorong waktu aku memulai hidup baruku.
Waktu berjalan terasa begitu cepat, di tengah kelahiran buah hatiku yang pertama,aura kebahagian terpancar kuat, apalagi kehidupan ku dan suamiku makin mapan, rumah kecil sederhana meskipun belum sempurna tetapi, menjadi satu kebahagiaan ku menjalani hidup bersama suami dan anaku.
Makin hari memang ,penuh perjuangan suamiku yang ku kenal bertanggung jawab,tanpa kenal waktu mencari nafkah untukku dan anakku tanpa kenal lelah,hingga pada satu titik dimana kami harus memperjuangkan kehidupan dan masa depan anak anak, suamiku kemudian mengajak ku untuk ikut mendampingi dirinya bekerja di sebuah perusahaan.
” Demi masa depan anak anak dan masa tua kita, ikutlah bersamaku mencari rejeki di rantau orang, “pinta Suamiku.
“Jika itu menjadi keputusan mu,naka sudah sepatutnya aku berada di sampingmu suamiku”jawabku.
Waktu merenda hari, semangat juang suamiku terus menanjak hingga akhirnya,dua tahun sudah kami berada di rantau orang, tabungan dari hasil gaji dan bonus perusahaan,aku tabung hingga puncaknya,kami harus kembali kerumah kami sendiri.
Ya,rumahku yang di bangun dari kerja keras dan cinta sudah lama kami tinggalkan, meskipun kami tinggal di desa,tapi keharmonisan rumah tangga tetap terjaga,bahkan lingkungan kami tinggal sangatlah ramah,warga masih menjalankan gotong royong dan jaga lingkungan,sehingga aku merasakan betapa beruntungnya aku hidup di tengah tengah kehidupan sosial yang saling menjaga.
Rumah yang ku bangun dari hasil jerih payah berdua, lokasinya tak jauh dari mertua,dan masih satu lahan yang sama,maklum jika hidup di perkampungan lokasi tanah masih lumayan luas,dan sudah barang tentu satu keluarga akan tinggal bersama dan membangun rumah di sana.
Anak sulung ku Satria makin tumbuh besar dan berkembang, dia duduk di kelas empat SD di kampung, Otaknya tak kalah dengan anak anak lain, tiga besar selalu dia dapat di sekolah, membuat ayahnya makin sayang dan memanjakan satria.
Sementara Astri si kecil nan cantik, wajahnya bulat ,hidung mancung ,rambutnya ikal berombak, jadi pelengkap dalam keluargaku.
Senja itu, pulang kerja suamiku mengajak diskusi soal dirinya harus mau di tugaskan di lokasi perusahaan yang baru, apalagi jarak antara rumah dan kantor yang baru cukuplah jauh, dan harus tinggal di mes kantor.
” Beberapa hari ke depan, aku harus bekerja di kantor baru yang cukup jauh Bu, kalau aku tolak bisa bisa aku kena surat peringatan dari kantor, aku bingung” keluh suamiku.
” Jika memang itu keputusan kantor, dan engkau sanggup tak jadi soal yah, anak anak kita juga mulai besar dan butuh biaya banyak,” kataku.
Ada perasaan tak menentu, saat melepas pergi suami pergi kerja, apalagi aku tinggal hanya bertiga saja di rumah ,tak ada lagi yang membantu saat si kecil minta mandi air hangat.
Waktu berjalan beriringan, Satu musim suamiku tiba tiba tak lagi mengabari seperti dulu, ada yang aneh akhir akhir ini, tapi ku tepis semua pikiran jelek tentang dia, dan aku masih sangat yakin suamiku menjaga kesetiaan dan perasaan anak anak yang selalu menunggu di rumah.
Kepulangan suamiku tiba, banyak oleh oleh anak anak di belikan, betapa senang nya satria dapatkan mainan robot baru, sementara Astri di belikan boneka lucu, rasa haru dan bahagia aku rasakan.
Sikap Edo yang tadinya sangat perhatian,tiba tiba berubah acuh, sementara HP tak lagi seperti dulu,bebas di letakan di mana saja, tapi sikap itu berubah, sikapnya mulai buru buru untuk kembali ke mes kantor.
Ku buang pikiran buruk soal Edo di luaran sana, Namun suara suara janggal di luaran sana membuat pertahanan hatiku mulai goyah, Entah kebetulan atau tidak, Suatu hari aku ketemu Herman sahabat sekantor Edo, Dan menanyakan satu kabar yang membuat hatiku remuk redam,l
‘”eh ta,Apa benar suamimu menikah lagi dengan kawan sekantornya”
Deg, hatiku begitu sakit mendengar pertanyaan Herman, aku berusaha menjawab agar tidak kelihatan gugup, rasanya Aku ingin segera berlari dari hadapan Herman, pulang kerumah dan memeluk anak anaku.
Waktu berlalu, jejak hujan masih basah di halaman rumah, usai mengantar si sulung ke sekolah,aku kembali mengurus si bungsu, baru Minggu kemarin Edo mengirimi uang belanja,tapi pikiran atas pertanyaan Herman tak mampu ku sembunyi kan.
Air bening menetes di sudut mataku, ku peluk si kecil penuh kasih, betapa berat ujian yang harus ku lalui,jika saja hidupku dekat dengan keluarga sudah pasti aku pulang kerumah orang tuaku.
Tepat setelah selesai membereskan rumah, ku coba rebahan di kamar anak anak, riba tiba handphone ku berdering menandakan ada pesan masuk.
Ku baca ternyata dari Edo, cukup panjang Edo menuliskan pesan, dan meminta maaf jika dirinya tak bisa melanjutkan rumah tangga denganku.
Di akhir kalimat Edo memintaku untuk tidak berharap aku untuk bisa bersama lagi.
Tak bisa aku terima kenyataan dan pengorbanan untuk keluargaku, semua ku perjuangan,tapi Edo begitu mudah membenamkan semua harapan atas kebahagiaan anak anakku. Dan masa depan mereka.
Marah,sedih,hancur menjadi satu, tak lagi aku bisa berpikir ,hatiku seperti di Godam palu besar,mataku nanar,nafasku sesak ,tubuhku lunglai.
Entah tiba tiba botol berisi cairan hijau terasa pahit,panas masuk ke dalam tenggorokan ku, nafasku sesak dadaku sakit, perutku perih ,gelap dan hening.
Selamat tinggal anak anaku sayang,jaga dan rindukan ibu di rindang Kamboja.
Daun berguguran di lokasi pemakaman, dua remaja menabur bunga, rumput di atas pusara tercerabut, bunga Kamboja luruh.
Sanggar imaji pamenang selatan 18 juli 2026
