Cerpen Yanto bule

Sembako

Pesta lima tahunan di gelar, gemanya membumi ke seluruh negeri, begitu juga dengan kampungku nan jauh dari hiruk pikuk gemerlap kota, kampung halamanku hanyalah bagian kecil dari ratusan desa di negeri ini,tetapi meskipun kecil tetapi ramainya para tim sukses dan calon yang mendeklarasikan dirinya maju menjadi makin ramai saja.

Di setiap simpang empat , pertigaan jalan tak lepas dari spanduk dan juga baliho para calon legislatif, beragam gaya dan senyuman terpasang di spanduk bahkan wajahnya tidak ada satupun noda di wajah dalam spanduk yang terlihat glowing kata anak anak sekarang.

Ya.. begitulah demokrasi, semenjak puluhan tahun lalu perhelatan pemerintah setiap lima tahun, menjadi ajang untuk beradu timses, bukan itu saja geliat untuk maju menjadi calon juga banyak di gaungkan bukan hanya jelang pemilihan, namun jauh sebelum bulan dan tanggal pemilihan banyak para calon kandidat yang berlomba lomba mencari simpatik masyarakat luas.

Begitu juga dengan salah satu keluargaku, yang awalnya hanya pendiam namun, saat msuk masa kampanye tiba tiba berubah drastis dengan cara yang lincah mengambil kesempatan.

Pembuatan spanduk dan pemasangan baliho lngsung di samber, menurutnya sih biar ada pemasukan sebab pesta lima tahunan harus benar benar di manfaatkan.

” Kapan lagi jika hanya menunggu saja, tidak akan ada yang mau datang ke rumahku, apalagi keluargaku hanyalah keluarga kecil”
“Menjadi bagian dari tukang meramaikan saja sudah bagus, jangan sampai kita diam saja eh pestanya sudah usai”

Terkadang benar juga kata saudaraku Udin, kalau hanya menonton tidak dapat apa apa pertunjukan selesai kita dapat angin saja, habis itu pemainnya dan penyelenggaranya yang dapat untung besar.

Tapi biarlah, untuk orang seperti Udin sudah pantas seperti tu wong tidak ada kerjaan.

Tiba tiba dimasa tenang pagi itu,Udin datang ke rumahku sembari membawa sembako dan juga poster foto caleg, yang tidak aku kenal, tergopoh-gopoh Udin mengetuk pintu rumah .

” Ini ada sembako dari calon yang aku dukung, ambil saja jangan kau pikir terlalu keras ya”
” Aku tidak mau Din,sebab calon yang dalam gambar ini tidak aku kenal sebelumnya, nanti jadi terhutang Budi jadinya”
” Ambil saja, buat dia memberi sembako bukan untuk meminta di coblos, itung itung sedekah tapi syukur kamu ingat wajah dia saat di bilik suara nanti”
” Bawa saja sembako ini aku tidak mau menerima , aku tak mau berhutang Budi karena pemberian ini Din”
” Kamu memang susah di ajak untuk ikut hal seperti ini,dasar kampret “

Setelah kejadian itu,aku jadi makin malas di rumah sebab ada saja orang yang datang kerumah dengan banyak modus silaturahmi, dan pengen tau keluargaku tinggal ,kadang untuk sekedar menghindari tamu datang kerumah aku pulang kadang malam.

Aku amati dari Sepajang jalan ibu kota kabupaten,menuju desaku terhitung ribuan spanduk dan baliho dengan berbagai ukuran, para calon dengan senyum dan foto penuh editan terpampang bukan hanya di jalan saja, tetapi ada yang di pohon, tiang listrik bahkan banyak juga baliho yang di pasang dengan frame kayu yang rubuh terkena angin,belum lagi baliho yang di rusak oleh tangan tangan jahil.

Dari wajah mereka yang terpasang,rata rata meminta dukungan dan juga doa ,behh…pesta demokrasi lima tahunan mang luar biasa.

Itu baru sepanduk dan baliho saja, belum lagi kalender kartu nama sampai baju juga bertebaran, tetapi ada juga yang di untungkan pemilik toko ,bengkel dan usaha lainya jadi berkurang budget untuk membuat spanduk nama usahanya sebab sebagian ada yang terang terangan membuatkan itu dari calon.

Yang lebih gilanya , setiap ada kegiatan apapun yang mengumpulkan banyak orang jadi incaran,sebab jualan janji dan membisikan kalimat palsu pasti laku,ahk…entahlah .

Usai bada isya , tiba tiba ada orang yang mengetik pintu rumah, aku dan istriku yang sedang menonton tv beringsut ke kamar, aku perlahan membuka daun pintu rumah, Ternyata ada tamu yang datang ke rumah dengan di antar Udin, lelaki dengan baju rapi dan pakai peci nasional masuk kerumah dengan di iringi beberapa pengikutnya.

” Kedatangan saya ke sini, ingin silaturahim dan tentu saja ini ada sedikit kenang kenangan berjuang”
” Berjuang apa maksudnya pak,saya setiap hari jug berjuang tanpa bantuan orang lain”
“Begini , maksud saya berjuang itu beras ,baju dan uang untuk keluarga ini”
“Tapi jangan lupa nanti di bilik suara cari nomor urut saya”
” Maaf saya bukan menolak tetapi, cara seperti ini buat saya terlalu berat untuk menerimanya “

Dengan wajah sedikit kesal Udin dan tamu yang datang pergi meninggalkan rumahku,drama apa lagi si Udin .

Tak kapok juga rupanya, Udin lagi lagi membawa tamu kali ini dengan mengendarai sepeda motor,dan membawa kaos di dalam plastik hitam, aku dan keluarga menyambut tamu yang datang bersama Udin, lagi lagi sama saja ternya tamu yang datang salah satu calon.

”saya ingin mengabdikan diri untuk daerah kita, biar bisa maju dan sejajar dengan daerah lain”
” Syukurlah jika memiliki niat yang baik”
” Tapi saya datang juga dengan maksud menyampaikan waspada “
“Waspada ,apa maksudnya ini”
” Ya kalau calon lain mungkin jauh lebih foya foya, kalau saya waspada itu walau sedikit pasti ada “
“Jangan seperti itu, keluarga kami hanya senang menerima tamu di rumah ini, dan kami tak perlu seperti itu”

Dengan muka kusam, Udin dan tamunya keluar rumah dan menggeber sepeda moto di depan rumahmu, Istriku yang mendengar suara bising motor keluar sambil ngoceh tak karuan.

” Sudahlah yah, tak perlu lagi menerima tamu saat seperti ini, banyak yang curiga dengan kita nanti kita di kira agen suara saja”
” Ayah tidak bisa menolak Bu, tak mungkin kita akan menutup pintu jika ada tamu yang mau kerumah kita, tapi ini pasti kerjaan si Udin, menang mentang musim politik siapapun calon yang mau kerumah di tampung “

Beberapa hari aku tak pulang, sebab pekerjaanku tak bisa ku tinggalkan, Usai menyelesaikan pekerjaan aku kembali kerumah dengan segudang kerinduanku.

Baru saja aku masuk ke dalam rumah, dan istriku baru saja mengantarkan segelas kopi dan sepiring gorengan, tiba tiba ada suara orang ang mengetuk pintu rumahku.

Akh, ternyata pak RT Atmo yang datang, ku persilakan duduk di rung tamu Dengan basa basi aku silahkan mencicipi gorengan buatan Istriku.

” Begini, saya sudah beberapa hari mau kerumah tetapi kaa tetanggamu lagi keluar kota, jadi baru kali ini bisa bertamu kerumah”
” Memang benar pk RT, saya baru pulang dari urusan pekerjaan di kota, baru sore tadi balik kerumah”
” Tak apalah, ini kan musim politik dan sudah banyak para calon yang keliling mencari dukungan suara di kampung kita”
” Tapi tidak ada urusannya dengan saya kan pak RT”
” Bukan begitu, kebetulan saja di RT kita dapat jatah minyak sayur untuk di bagikan kepada warga kita, lumayanlah kalau satu keluarga dapat 2 liter minyak sayur, tapi tolong isi data ini ya untuk laporan, dan bantu di coblos besok”
” waduh kalau menerima minyak sayur dan harus mengisi data, tak usahlah pak, saya masih sanggup untuk membelinya di pasar”

Ajakan pak RT tak aku terima, sebab bagiku berjuang Budi hanya gegara minta di pilih sangatlah berat, apalagi di setiap kampung hampir ada calon yang baju dengan beragam warna baju parpol.

Pagi pagi aku sudah mandi dengan baju rapi, aku dan istriku bersiap untuk ke TPS sembari sarapan dan menunggu istriku berdadan, aku hidupkan tv di ruang tamu, tampak di layar kaca pembaca berita tengah membacakan berita breaking news, jika ada tim sukses yang tertangkap tangan saat menyebarkan sembako kerumah rumah.

Yang lebih mengagetkanku adalah ada dua orang yang aku kenal, Pak RT Atmo dan Udin ikut di Giring oleh petugas penegakan hukum terpadu, keduanya di bawa ke kantor polisi gegera menyebarkan sembako dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dan dukungan untuk calon yang di bantunya.

Istriku keluar kamar, dan membawa undangan untuk mencoblos, kutarik tangannya dan aku ajak berdiri di depan layar TV, mukanya terlihat terkejut melihat dua orang di tv di bawa ke ruangan dan di wawancarai reporter tv,tiba tiba istriku merobek undangan pencoblosan dan masuk ke dalam kamar, dan berkata padaku dengan suara keras ” kita tidak usah mencoblos “

Pamenang 10 February 2024

You May Also Like

blank

blank

More From Author

+ There are no comments

Add yours